Jenderal Soedirman, Pahlawan Nasional yang Tetap Gerilya Lawan Belanda dalam Kondisi Sakit

Jenderal Soedirman adalah satu di antara pahlawan nasional yang tidak lepas dari sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Wikipedia
Jenderal Soedirman 

Di Yogyakarta, Belanda menyerang Pangkalan Udara Maguwo dan selanjutnya menyerang lewat darat. Pada 19 Desember 1948, Yogyakarta mampu dilumpuhkan dan dikuasai pasukan Belanda.

Pada Agustus 1949 terjadi krisis politik militer di Yogyakarya. Sesuai perjanjian Roem Royen, Presiden Sukarno mengeluarkan perintah gencatan senjata pada, 3 Agustus 1949.

Padahal sehari sebelumnya, Jenderal Soedirman menghadap presiden untuk tetap mempertahankan kemerdekaan dengan berperang.

Selama Gerilya

Saat menjalankan gerilya, Jenderal Soedirman harus ditandu dengan berpindah-pindah tempat dan keluar masuk hutan.

Menghilang dan menyerang dengan tiba-tiba. Bergerak, menyusup, kemudian muncul secara tiba-tiba.

Jenderal Soedirman tidak bisa memimpin secara langsung pasukannya saat berperang karena kondisinya.

Ia memimpin lewat pemikiran dan motivasi untuk pasukannya.

Selama bergerilya, para pejuang juga melakukan penyerangan ke pos-pos yang dijaga Belanda atau saat konvoi.

Baca juga: Sosok Teuku Umar, Pahlawan Nasional yang Pura-pura Jadi Kaki Tangan Belanda demi Mengelabui Penjajah

Gerilya yang dilakukan pasukan Indonesia merupakan strategi perang untuk memecah konsentrasi pasukan Belanda.

Taktik tersebut membuat Belanda bingung dan kewalahan karena melakukan penyerangan tiba-tiba.

Cara tersebut membuat pasukan Belanda terpaksa mundur.

Kembali ke Yogyakarta

Setelah hampir 7 bulan bergerilya dengan berpindah-pindah, Jenderal Soedirman memutuskan kembali ke Yogyakarta.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved