Breaking News:

Vaksinasi Covid19

Apa Saja Perbandingan 3 Vaksin Covid-19 Buatan AS: Moderna, Pfizer, dan Johnson & Johnson?

Berikut ini perbandingan vaksin Covid-19 buatan Amerika Serikat (AS), yakni Moderna, Pfizer, hingga Johnson & Johnson.

TRIBUNNEWS/HERUDIN
Vaksinator menyiapkan vaksin dosis ketiga atau booster vaksin Moderna untuk tenaga kesehatan di RSUD Matraman, Jakarta Timur, Jumat (6/8/2021). Pemerintah menargetkan pemberian dosis ketiga kepada tenaga kesehatan rampung pada pekan kedua Agustus 2021. 

Dikutip dari laman resmi kesehatan Yale, yalemedicine.org, ada beberapa perbedaan antara vaksin Johnson & Johnson dengan vaksin lain.

Berikut perbandingan vaksin lain dengan Johnson & Johnson:

1. Vaksin Johnson & Johnson

Lembaga Administrasi Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) mengumumkan keefektifan penggunaan vaksin Johnson & Johnson sejak Februari 2021.

Tidak seperti vaksin Pfizer dan Moderna, ini adalah vaksin pembawa, atau vektor virus.

Vaksin Johnson & Johnson adalah vaksin yang berasal dari vektor virus.

Sehingga, dapat disimpan dalam lemari es dengan suhu normal.

Vaksin Johnson & Johnson hanya perlu disuntikkan sebanyak satu dosis.

Berikut rincian informasi tentang vaksin Johnson & Johnson:

Status:

Penggunaan darurat di AS dan negara lain, termasuk di Uni Eropa (dengan nama Janssen).

Rekomendasi usia:

Dewasa 18 tahun ke atas.

Jumlah dosis:

Satu suntikan, vaksin akan efektif setelah dua minggu pasca vaksinasi pertama.

Efek samping:

Lelah, demam, sakit kepala, nyeri di tempat suntikan, atau mialgia (nyeri pada otot atau sekelompok otot). Semua efek samping tersebut akan hilang setelah dua hari. Vaksin ini juga tidak menimbulkan reaksi alergi.

"Efek samping tersebut lebih ringan dibandingkan dengan vaksin Pfizer dan Moderna," kata pihak FDA yang dirilis pada akhir Februari.

Peringatan Efek Samping Langka:

FDA mengumumkan dua peringatan pada penggunaan vaksin ini.

Ada laporan kasus langka dari gangguan neurologis sindrom Guillain-Barré pada Juli 2021 yang terjadi pada sebagian kecil penerima vaksin Johnson & Johnson.

Gangguan tersebut terjadi setelah 42 hari pasca vaksinasi.

Tingkat Efektivitas:

Tingkat kemanjuran 72 persen secara keseluruhan, dan tingkat kemanjuran terhadap penyakit parah 86 persen.

Vaksin ini mengalami peningkatan kemanjuran sebanyak 9 persen pada Agustus 2021 setelah suntikan booster pasca enam bulan mendapatkan suntikan pertama.

Namun, peningkatan 9 persen tersebut belum ditinjau kembali atau dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

Johnson & Johnson juga disebutkan menurunkan sedikit potensi terhadap penularan varian Delta.

Pada studi pertama, vaksin ini dinyatakan memiliki tingkat kemanjuran 71persen terhadap pasien Covid-19 rawat inap dan hingga 95 persen efektif terhadap potensi kematian.

2. Vaksin Moderna

Vaksin Moderna mulai digunakan di AS sejak Desember 2020.

Vaksin ini memilik tingkat kemanjuran yang sama tinggi dengan Pfizer dalam mencegah penyakit simtomatik.

Moderna membutuhkan suhu yang lebih dingin dibandingkan Johnson & Johnson.

Pemerintah AS menggunakan vaksin ini sebagai vaksin booster untuk orang yang memiliki tingkat kekebalan tubuh rentan, seperti penerima transpantasi organ, memilk infeksi, dan penyakit lainnya.

Berikut rincian informasi tentang vaksin Moderna:

Status:

Vaksin telah digunkan di beberapa negara seperti AS dan Uni Eropa.

Rekomendasi usia:

- Dewasa 18 tahun ke atas.

- Anak-anak berusia 12 tahun.

Jumlah dosis:

Dua suntikan, dengan jarak 28 hari. Vaksin ini akan efektif setelah dua minggu pasca vaksinasi kedua.

Efek samping:

Kedinginan, sakit kepala, nyeri, kelelahan, dan/atau kemerahan dan pembengkakan di tempat suntikan.

Efek samping tersebut akan hilang dalam satu atau dua hari.

Peringatan Efek Samping Sangka:

Pada sebagian kecil kasus langka, penggunaan vaksin Moderna membutuhkan waktu selama 15 menit setelah mendapat suntikan vaksin ini bagi orang yang sehat, dan selama 30 menit bagi mereka yang memiliki riwayat alergi parah.

Selain itu, ada pula kasus peradangan pada penderita penyakit jantung.

Hal ini disebabkan oleh peradangan otot jantung pada dosis kedua dan akan membaik seiring berjalannya waktu.

Tingkat Efektivitas:

Vaksin ini memiliki tingkat kemanjuran lebih dari 90 persen dan lebih dari 95 persen terhadap kasus infeksi Covid-19 yang parah.

Tingkat efektivitas tersebut terjadi setelah 6 bulan pasca vaksinasi pertama.

Moderna juga memiliki tingkat kemanjuran 94,1 persen dalam mencegah infeksi simtomatik pada orang yang belum pernah terinfeksi Covid-19.

Sementara itu, untuk orang usia 65 tahun ke atas mendapat tingat kemanjuran 86,4 persen.

Vaksin Moderna juga dilaporkan memiliki tingkat efektivitas 90 persen (setelah 14 hari sejak vaksinasi) pada vaksinasi pertama pada tenaga kesehatan AS pada akhir Maret 2021.

Di negara bagian New York, tingkat efektivitas vaksin turun dari 91,7 persen menjadi 79,8 persen terhadap infeksi.

Hal itu mendorong pemerintah AS memberikan suntikan booster.

Beberapa penelitian membuktikan vaksin ini dapat melindungi pengguna dari varian Alfa, Beta, Eta, dan Kappa.

Saat ini masih dilakukan penelitian lebih lanjut tentang tingkat kemanjuran Moderna terhadap Delta.

3. Vaksin Pfizer-BioNTech   

Pfizer-BioNTech adalah vaksin pertama yang diizinkan oleh FDA untuk digunakan di AS.

Otoritas Darurat AS (EUA) melaporkan data hasil uji klinis awal dari pasien positif yang menunjukkan vaksin Pfizer-BioNTech sangat efektif dalam mencegah penyakit simtomatik.

Vaksin ini sama dengan Moderna, yaitu membutuhkan tempat penyimpanan yang dingin seperti freezer.

Sehingga, proses pendistribusian vaksin ini lebih sulit.

FDA mengesahkan penggunaan Pfizer-BioNTech sebagai vaksin booster pada Agustus 2021.

Berikut rincian informasi tentang vaksin Pfizer-BioNTech:

Status:

Disetujui untuk orang dewasa berusia 16 tahun ke atas di AS, dengan EUA untuk usia 12-15 tahun, dan untuk kelompok usia tertentu di negara lain, termasuk di Uni Eropa (dengan nama Comirnaty).

Rekomendasi usia:

- Dewasa 18 tahun ke atas.

- Anak-anak usia 12 tahun ke atas.

Jumlah dosis:

Dua suntikan, dengan jarak 21 hari.

Vaksin ini akan efektif setelah dua minggu pasca vaksinasi kedua.

Efek samping:

Menggigil, sakit kepala, nyeri, kelelahan, muncul kemerahan dan bengkak di tempat suntikan.

Semua efek samping itu dapat hilang dalam satu atau dua hari.

Penerima vaksin Pfizer-BioNTech dengan efek samping bengkak di area suntikan, wajib istirahat, minum air putih yang banyak, dan mengonsumsi obat-obatan seperti asetaminofen.

Jika gejala tersebut tidak sembuh dalam 72 jam, serta timbul gejala pernapasan, seperti batuk atau sesak napas, segera hubungi dokter.

Peringatan Efek Samping Langka:

Pada sebagian kasus kecil, vaksin ini dapat memicu anafilaksis, yaitu reaksi parah yang dapat diobati dengan epinefrin.

Hal tersebut menjadi dasar dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) untuk mewajibkan penerima vaksin tidak meninggalkan tempat vaksin selama 15 menit setelah vaksinasi.

Sementara untuk orang yang memiliki riwayat penyakit alergi yang parah harus menunggu selama 30 menit.

Tingkat Efektivitas:

Vaksin Pfizer tingkat kemanjuran lebih dari 95 persen efektif melawan penyakit parah atau potensi kematian dari infeksi varian Alpha dan varian Beta.

Sebuah penelitian di India menemukan tingkat kemanjuran 88 persen terhadap penyakit simtomatik.

Sementara itu, hasil penelitian di Israel menemukan tingkat kemanjuran 90 persen terhadap penyakit parah, dan 39 persen terhadap infeksi ringan.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Berita lain terkait Vaksinasi Covid-19

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Perbandingan Tingkat Efektivitas Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson, Moderna, dan Pfizer-BioNTech

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved