SOSOK Pahlawan Nasional asal Fakfak Papua Barat, Namanya Machmud Singgirei Rumagesan

SOSOK Machmud Singgirei Rumagesan, Pahlawan Nasional asal Fakfak Papua Barat yang mendapat panggilan Sijago Tua

Editor: Jefri Susetio
Direktorat Kementerian Sosial
Machmud Singgirei Rumagesan 

TRIBUNPAPUABARAT.COM- Machmud Singgirei Rumagesan merupakan pahlawan nasional asal Papua Barat. Ia dinobatkan sebagai pahlawan nasional Presiden Joko Widodo pada 10 November 2020.

Dahulu Machmud Singgirei Rumagesan dikenal luas sebagai raja lokal di Distrik Kokas, Fakfak, Papua Barat. Ia sangat keras menentang kolonial.

Kala itu Rumagesan menuntut maskapai minyak Belanda yang membuka pertambangan di Kokas agar mempekerjakan penduduk pribumi. Dan, meminta tidak ada perlakukan buruk.

Baca juga: Kapolda Papua Barat akan Berkunjung ke Polres Sorong Kota, Begini Kesiapan yang Dilakukan

Baca juga: Ada Event Internasional, Tingkat Hunian Kamar Hotel di Papua Barat Lampaui Rata-rata Nasional

Sikap kerasnya terhadap Belanda pada masa itu membuat ia dibuang dan dipenjara di Manokwari, Saparua, Sorong Doom dan berbagai daerah lain di Papua maupun Sulawesi.

Dari berbagai referensi yang ada, Machmud Singgirei Rumagesan juga pernah mendirikan sebuah organisasi.

Pada 1953 ia membentuk organisasi pembebesan Irian Barat.

Organisasi itu diberi nama Gerakan Tjenderawasi Revolusioner Irian Barat (GTRIB).

Ia pengin membebaskan Irian Barat dari Belanda sehingga pada 1954 ia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung.

Lawan dari Mimbar Masjid. 

Tidak sekadar mendirikan organisasi, Machmud Singgirei Rumagesan juga melawan Belanda lewat mimbar masjid.

Ia menyerukan pahlawan jihad fisabilillah dalam menentang kolonial Belanda.

Semangatnya untuk membebaskan Irian Jaya Barat dari cengkraman Belanda tidak pernah pudar.

Baca juga: Perjalanan Hidup Sakarias Dowansiba, 7 Hari 7 Malam Jalan Kaki dari Pegaf Menuju Manokwari

Baca juga: Kisah Pedagang Sirih Pinang di Pasar Sanggeng Manokwari yang Berhasil Kuliahkan Anaknya hingga PNS

Sehingga, Presiden Soekarno memberinya nama 'Si Jago Tua' dari Irian Barat. Sebab berhasil Merdeka dari Belanda sejak putusan Konferensi Meja Bunadar (KMB) pada 24 Desember 1949.

Ia sempat menyaksikan Irian Barat bergabung ke Indonesia sebelum wafat. Dan, sempat diangkat menjadi Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Republik Indonesia pada periode 1959-1965. Ia wafat pada 5 Juli 1964.

Pada 1969 Penentu Pendapat Rakyat   (Pepera)    memutuskan Irian Barat bergabung dengan Indonesia.

(*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved