Potret Kelam Pendidikan di Pelosok Raja Ampat, Susah Akses Internet hingga Pinjam Guru dari Kota

Seorang Guru di SMP Negeri 7 Raja Ampat Niko Watem (54) menuturkan, sejak didirikan sekolah SMP Negeri 7 Raja Ampat ini masih terbentur banyak kendala

Penulis: Safwan Ashari | Editor: Roifah Dzatu Azmah
(TribunPapuaBarat.com/Safwan Ashari)
Seorang Guru Agama Kristen di SMP Negeri 7 Raja Ampat Niko Watem (54) dan para siswa di ruangan kelas, di Kampung Deer, Distrik Kofiau, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Jumat (12/8/2022). 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, RAJA AMPAT - Sejak 1996 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 7 Raja Ampat, mulai didirikan dengan tujuan untuk mencerdaskan generasi bangsa di Kampung Deer, Distrik Kofiau, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

Seorang Guru Agama Kriteria di SMP Negeri 7 Raja Ampat Niko Watem (54) menuturkan, sejak didirikan sekolah SMP Negeri 7 Raja Ampat ini masih terbentur banyak kendala.

Pertama, tenaga pengajar di SMP Negeri 7 Raja Ampat masih sangat minim dan terbatas.

Baca juga: Bank Indonesia Ajak TNI dan Anak-anak Raja Ampat Nobar Cinta Bangga Paham Rupiah

"Pada 1996 hingga saya masuk 2005 sekolah ini masih punya banyak kendala," ujar Niko, kepada TribunPapuaBarat.com, Jumat (12/8/2022).

"Dulu guru yang ada di sekolah hanya ada empat, kasihan untuk pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Fisika dan lainnya," tuturnya.

Setiap mau masuk ujian, pihaknya ditugaskan ke Kota Sorong dan Raja Ampat untuk mencari guru.

"Saya terpaksa pinjam masyarakat punya jonson (perahu kayu), untuk menuju ke kota," ucap pria enam anak itu.

Tak peduli, sekalipun hujan badai pun tetap ia memberanikan diri untuk mencari guru di kota.

Ia mengaku, hidup diera itu untuk alat komunikasi pun sulit di dapat.

"Tidak ada alat komunikasi sehingga saya harus terpaksa lari ke RRI untuk mengirimkan pesan ke kampung," jelasnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved