Cerita Amos Kareth, Putra dari Maybrat yang Ikut Menyaksikan Kemerdekaan Timor Leste

Amos Kareth, putra Maybrat, Papua Barat adalah salah satu utusan dari Indonesia yang ikut terlibat dalam jejak pendapat kemerdekaan Timor Leste

TRIBUNPAPUABARAT.COM/PETRUS BOLLY LAMAK
UTUSAN - Kepala Dinas Kominfo Kota Sorong, Amos Kareth menjadi salah satu perwakilan dari Indonesia yang ikut jejak pendapat kemerdekaan Timor Leste tahun 1999. Hal itu diungkap Amos kepada awak media di Sorong, Sabtu (20/8/2022) 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, SORONG - Pemerintah Indonesia mengutus ratusan orang sebagai perwakilan dalam melakukan jejak pendapat kemerdekaan Timor Leste, pada tahun 1999 silam.

Salah seorangnya adalah Amos Kareth, putra kelahiran Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat.

Amos menuturkan, keberangkatan mereka ke Timor Leste difasilitasi oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) kala itu.
Transportasi yang digunakan Amos beserta ratusan orang lainnya adalah transportasi laut.

"Kami berangkat dari Jakarta untuk menghadiri dan menyaksikan kemerdekaan Timor Leste. Saya salah satunya," ucap Amos Kareth saat ditemui awak media di Kota Sorong, Sabtu (20/8/2022).

Baca juga: Dinas PPPA Gelar Nikah Masal, Wali Kota Sorong: Langgeng Sampai Oma Opa

Amos yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Sorong menuturkan, jumlah utusan dari Pemerintah Indonesia kurang lebih 360 orang.
Kemerdekaan Timor Leste tak hanya disaksikan oleh Indonesia, melainkan sejumlah negara dari belahan dunia.

"Saya ingat betul berangkat Bulan Agustus 1999. Kami dikawal anggota TNI, ada tujuh orang Jenderal yang ikut," ucap Amos Kareth.

Baca juga: Hitungan Hari Jabat Wali Kota Sorong, Lambertus Resmikan Pasar Moderen Termegah di Papua Barat

Putra Maybrat itu sama sekali tak menyangka setelah lulus kuliah hukum, ia terpilih menjadi saksi sejarah jejak pendapat kemerdekaan Timor Leste.

"Setelah itu, kami pulang dengan kapal turun di Bali. Kemudian naik bus menuju ke Yogyakarta," ucapnya.

Sebelum menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), Amos yang baru menamatkan pendidikan strata satu (S1) terpaksa menganggur selama dua tahun di Jakarta.

Perjuangan mencari lapangan pekerjaan di ibu kota negara tak kunjung berhasil, Amos akhirnya kembali ke Papua Barat tahun 2000.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved