Pekerja Tepis Tudingan Galian C Biang Kerok Banjir di Kota Sorong, Ancam Geruduk Kantor Wali Kota

Mereka juga mengancam akan menggeruduk kantor wali kota, apabila pemerintah setempat menutup aktivitas Galian C

TRIBUNPAPUABARAT.COM/PETRUS BOLLY LAMAK
ANCAMAN: Masyarakat pekerja pasir di Kelurahan Matalamagi, Distrik Sorong Utara mengancam akan menggeruduk kantor Wali Kota Sorong apabila aktivitas Galian C ditutup pemerintah. Hal itu disampaikan seorang pekerja Yance Basna, Sabtu (3/9/2022). 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, SORONG - Sejumlah pekerja Galian C yang berada di Kelurahan Matalamagi, Distrik Sorong Utara menepis tudingan biang kerok terjadinya bencana banjir dan tanah longsor di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat.
Mereka juga mengancam akan menggeruduk kantor wali kota, apabila pemerintah setempat menutup aktivitas Galian C.

"Jangan ambil keputusan sepihak. Kalau tidak, kami akan duduki kantor wali kota," ucap Yance Basna, pekerja Galian C saat bertemu Penjabat Wali Kota Sorong, George Yarangga pada Sabtu (3/9/2022).

Baca juga: INILAH Luas Hutan Lindung Sorong yang Gundul Akibat Galian C, Kepala Distrik: Tidak Bisa Bertindak

Baca juga: Warga Menghadang Rombongan Pj Wali Kota Sorong: Segera Hijaukan Lokasi Galian C

Ia menegaskan, rencana pemerintah menutup Galian C harus didiskusikan dengan masyarakat khususnya para pekerja pencucian pasir. Sebab, 90 persen masyarakat menggantungkan asa dari aktivitas pencucian pasir di lokasi Galian C.

"Kami punya kehidupan rumah tangga bersumber dari sini," tegas dia.

Baca juga: Tuding KPK Janggal Dalam Aksi Plang Perusahaan Galian C, Deni: Harusnya Sama-sama Dipasang Biar Adil

Pendapatan dari pencucian pasir, sambung Yance, dipergunakan warga untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari hingga biaya pendidikan anak-anak mereka. Pekerjaan tersebut sudah berlangsung sejak tahun 1993 silam.

Waktu itu, pemerintah belum menetapkan kawasan hutan di Papua Barat termasuk Kota Sorong sebagai kawasan hutan lindung. Aktivitas pengerukan pasir hingga pencucian mulai dilakukan tahun 1994, dan tanah yang dikelolahnya merupakan pelepasan dari marga Klagison.

"Dari tahun itu tidak ada yang larang-larang kami untuk cari nafkah di sini. Baru tahun 2020, pemerintah mulai larang," ungkap dia.

Baca juga: KOLAM BESAR Bekas Galian C, Perbukitan Hijau Kota Sorong Sudah Habis, Banjir Hantui Warga

Baca juga: POTRET Galian C Disinyalir Biang Kerok Banjir Kota Sorong, Bukit Kawasan Hutan Lindung Sudah Gundul

Ia menilai, banjir dan tanah longsor merupakan bencana alam. Sehingga tidak bisa saling menyalahkan antara pekerja Galian C dengan pemerintah daerah atau sebaliknya.

Untuk mengatasi persoalan banjir dan tanah longsor, pemerintah harus menempuh solusi yang bijaksana agar tidak mengorbankan pekerja pencucian pasir.

"Tuhan ciptakan langit, bumi dan air agar manusia nikmati. Bukan semata-mata kami gali pasir lalu banjir turun. Tuhan ciptakan hujan, panas, siang dan malam," katanya.

Baca juga: BREAKING NEWS: Tinjau Galian C, Rombongan Pj Wali Kota Sorong Diadang Warga Korban Banjir

Baca juga: KPK Pasang Plang di Perusahan Galian C, Wakapolres Sorong Kota: Kalau Ada Laporan Kami Proses

Kendati demikian, Yance mengaku belum dilakukan upaya reboisasi pada daerah Galian C.
Namun, pemerintah daerah melalui instansi teknis pernah mengingatkan para pekerja bahwa lokasi tersebut masuk dalam kawasan lindung.

"Sejauh ini kami belum reboisasi. Tahun 2020 dinas bilang ini kawasan hutan lindung," pungkas dia. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved