Cerita Pedagang Kue Manokwari tak Naikkan Harga Jualannya Meski Tepung, Telur dan BBM Naik

Cerita Pedagang Kue Manokwari tak Naikkan Harga Jualannya Meski Tepung, Telur dan BBM Naik, Berikut Kisahnya

TRIBUNPAPUABARAT.COM/Kresensia Kurniawati Mala Pasa
TRIBUNPAPUABARAT.COM/Kresensia Kurniawati Mala Pasa BBM NAIK - Seorang penjual kue kaki lima di daerah Wosi, Manokwari bernama Ria (28) berpose di depan gerobak jualan, Senin (5/9/2022). Ia tidak naikkan harga kuenya meski tepuk dan telur sudah naik. 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Para penjual kue di Manokwari mengeluhkan kenaikan bahan baku pembuat kue, terutama tepung terigu dan telur ayam. Meski begitu, mereka tidak naikkan harga kuenya.

Seorang penjual kue kaki lima di daerah Wosi, Manokwari, bernama Ria (28) mengungkapkan, kondisi ini diperburuk dengan kenaikan bahan bakar minyak (BBM).

Pasalnya, pengantaran kue menggunakan jasa ojek. Sedangkan tarif ojek dalam kota sudah naik semenjak ada kenaikan Pertalite, Pertamax, dan Solar.

Baca juga: Kisah Ketua PSI Papua Barat Purwanto, Memilih Jalur Politik untuk Suarakan Jeritan Rakyat Tertindas

Baca juga: Ini Pernyataan Sikap Masyarakat Suku Arfak soal Pengembalian Empat Distrik dari Tambrauw

Maka dari itu, biaya produksi dan jasa pengantaran atau delivery membengkak.

"Dulu ojek antar pesanan di Amban itu hanya bayar Rp 10 ribu sekarang sudah Rp 20 ribu. Tapi biar harga barang naik, BBM juga naik, kita tidak mau naikkan harga kue lagi, kasihan pembeli," kata dia saat ditemui TribunPapuaBarat.com, Senin (5/9/2022).

Dia menyebut, penghasilannya dalam sehari bisa mencapai Rp 800 ribu.

Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 500 ribu terpakai untuk belanja kebutuhan produksi kue berikutnya. Seperti satu karton tepung terigu berisi 12 bungkus yang dibeli dengan harga Rp 140 ribu.

Ria mengaku, harga tersebut sudah naik beberapa waktu terakhir. Setelah sebelumnya hanya dijual Rp 115 ribu per dus.

Ditambah kenaikan harga telur ayam ras, pasokan dari Surabaya. Semula dijual Rp 65 ribu per rak, sekarang dijual Rp 70 ribu per 30 butir telur atau satu rak.

"Dari Rp 800 ribu pendapatan itu, Rp 500 sudah habis terpakai. Sisanya itu untuk biaya ojek pengantaran dan biaya makan sehari-hari," ujarnya.

Ria bersikukuh tidak akan menaikkan harga kue atau mengurangi kualitas kue buatannya.

Sebab, sebagai penjual kue kaki lima, dia mengaku sebagian besar pembelinya berasal dari masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah.

"Sudah sejak bulan puasa kemarin kita jual satu kue dengan Rp 2500. Sudah harga sudah pas segitu. Tidak tega sama pembeli kalau dinaikkan. Tak apa untung sedikit, yang penting ada terus setiap hari," katanya.

Baca juga: SOSOK Wakapolres Manokwari Kompol Agustina Sineri, Pernah Jadi Atlet Voli Pantai, Raih Emas di PON

Baca juga: AKSI Mogok Sopir Angkot Kota Sorong, Hidup Semakin Tertekan Diminta Setoran Naik

Perjuangan Berjualan Kue

Warga daerah Taman Ria Wosi itu mengungkapkan, sebagai penjual kue kaki lima di Manokwari, ia harus mulai membuka gerobak jualannya sejak pukul 5.30 WIT.

Dengan sabar, dia akan menunggu satu per satu pembeli datang menghampiri gerobaknya hingga pukul satu siang.

"Kalau matahari lagi panas-panasnya, kue kadang jadi menyusut, tidak ada yang mau beli lagi kalau sudah begitu. Saya tutup gerobaknya, dan rugi karena sisa kue itu," jelasnya.

Walaupun berjualan kue di masa sekarang terbilang sulit, namun ia tetap akan bertahan.

Ada tanggung jawab yang dipikulnya, yaitu sebagai orangtua tunggal dari anak semata wayangnya.

(*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved