Berita Kota Sorong

Mama Benselina, Hidupnya Bergantung Jantung Pisang di Pasar Sorong: Semakin Parah Nasib Kami

Mama Benselina, Hidupnya Bergantung Jantung Pisang di Pasar Sorong: Ekonomi Semakin Parah, kehidupannya semakin parah

Penulis: Petrus Bolly Lamak | Editor: Jefri Susetio
TRIBUNPAPUABARAT.COM/Petrus Bolly Lamak
PEDAGANG - Mama Beselina, penjual pisang dan jantung pisang di Pasar Sentral Remu Kota Sorong. Hidupnya Bergantung pada Jantung Pisang di Kota Sorong 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, SORONG- PISANG dan jantung pisang inilah hidup Mama Benselina bergantung. Pisang dan jantung pisanglah yang memberinya rezeki dan menumpukan harapan.

Mama Benselina tidak paham politik. Ia tidak tahu menahu urusan DOB apalagi hiruk pikuk kenaikan BBM.

Saban hari, ia hanya berdagang di pisang di Pasar Sentral Remu. Sudah belasan bahkan puluhan tahun ia menjalankan irama hidupnya yang senantiasa sama.

Baca juga: 10 Film Trending Netflix di Indonesia Minggu Ini dan Sinopsisnya: No Limit hingga End of the Road

Baca juga: Silatuhrami dengan Tribun, Pj Bupati Sorong: Hadir Angkat Potensi Daerah Bersaing di Nasional

Hanya saja, semakin tahun, ia merasa kehidupannya semakin terjepit. Hidupnya semakin sulit.

"Mama punya hidup sudah pas-pasan, terus tambah BBM naik jadinya kehidupan ekonomi semakin parah," katanya kepada TribunPapuaBarat.com Selasa (13/9/2022).

Begitu fajar menerkah, ia bangun untuk ke pasar. Jarak kediamannya di SP-1 Kabupaten Sorong menuju Kota Sorong tidaklah dekat.

Setelah BBM naik ia merasa hidupnya semakin sulit. Ongkos menuju ke pasar kini mencapai Rp 50 ribu. Pergin dan pulang ia harus menyediakan Rp 100 ribu.

Padahal sebelum kenaikan BBM ia hanya mengeluarkan   Rp 60 ribu    untuk ongkos pergi dan pulang dari rumah ke pasar.

Ia sadar berjualan tidak selalu lancar. Kadang jualanya tidak habis. Kadang ia pulang lebih awal.

Namun, ia selalu berdoa agar dilancarkan rezekinya.

Baca juga: KETUA Partai Prima Manokwari Edison Ijie, Dulu Aktivis Mahasiswa, Sempat Dilarang Istri Berpolitik

Baca juga: Sekda Papua Barat tak Jamin 385 P3K Diangkat Jadi PNS: Jadi Berdoa, Semoga Tuhan Kabulkan

"Saya jualan sama-sama dengan transmigrasi mereka dan tempat ini kami Mama-mama Papua yang berusaha untuk membeli kayu serta seng. Agar dibuatkan tempat jualan. Apalagi BBM naik semakin parah nasib kami rakyat kecil," ucap wanita berusia 65 tahun.

Meski begitu, ia selalu bersyukur sebab masih bisa berjualan dan punya penghasilan. Apalagi, barang dagangannya merupakan hasil kebun sendiri.

"Mama mereka tidak minta banyak. Kami hanya berharap pemerintah perhatikan kami pedagang kecil," ungkapnya.

(*)

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved