Penggusuran Pasar Boswesen Sorong

Meski Pasar Boswesen Sorong Digusur, Mama-mama Pedagang Bertekad Tidak Akan Pergi

"Lapak boleh dibongkar tapi tanah ini diberkati sehingga kami akan tetap jualan di Pasar Boswesen," ujar pedagang bernama Levina Duwit.

Penulis: Petrus Bolly Lamak | Editor: Tarsisius M
TRIBUNPAPUABARAT.COM/PETRUS BOLLY LAMAK
PROTES: Mama-mama pedagang bertekad tetap berjualan di Pasar Boswesen Kota Sorong, Papua Barat, meskipun pasar itu sudah digusur, Kamis (29/9/2022). 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, SORONG - Meski Pasar Boswesen sudah digusur oleh pemerintah Kota (Pemkot) Sorong, Papua Barat, puluhan Mama-mama Papua bertekad untuk tetap berjualan di pasar itu.

Mereka pun menggelar aksi protes dan mengatakan akan berjualan di lokasi Pasar Boswesen meskipun hanya beralaskan karung.

"Kami Mama-mama Papua harus satu suara untuk tetap jualan di sini, biar pemerintah perhatikan kita," kata Levina Duwit, satu di antara pedagang di Pasar Boswesen, kepada Tribunpapuabarat.com, Rabu (28/9/2022).

Ia menyesalkan sikap pemerintah yang di nilai arogan karena langsung menggusur memakai alat berat tanpa negosiasi.

"Pemerintah punya rakyat, masa tidak bicara baik, duduk bersama baru digusur? Kami ini manusia," ujarnya.

Baca juga: Sedih Pasar Boswesen Digusur, Yuliana Karuri: 2 Anak Saya Jadi Brimob Hasil Berjualan di Sini

"Kami akan tetap duduk di tanah ini karena nenek moyang sudah wariskan ini ke kami. Lapak boleh dibongkar tapi tanah ini diberkati sehingga kami akan tetap jualan," ujar Levina Duwit.

Levina Duwit menyampaikan aktivitas berjualan di pasar Boswesen berlangsung sejak 1976.

Banyak pedagang yang berhasil menyekolahkan anak-anak mereka dari hasil berjualan di Pasar Boswesen.

"Pokoknya kitong (kita) akan tetap bertahan di sini, di Pasar Boswesen, Kota Sorong," kata Levina Duwit.

Pedagang lain, Siska Narwadan, mengatakan pemerintah perlu mengkaji ulang Pasar Modern Rufei.

Menurut, pembangunan pasar Moderen Rufei oleh mantan Wali Kota Sorong, Lambertus Jitmau, tanpa meminta pendapat para pedagang.

"Pasar Moderen Rufei itu harus dikaji lagi. Waktu Pak Lambertus Jitmau bangun tak tanya kita dulu, main bangun saja. Sekarang apa sepi pembeli," katanya.

Baca juga: 2 Pria Diamankan Saat Penggusuran Pasar Boswesen Kota Sorong, Mama-mama Langsung Protes

Menurut Siska Narwadan, pembangunan pasar Moderen Rufei tidak sesuai keinginan pedagang.

Keamanan dan kenyaman pedagang di pasar Modern Rufei, ucapnya, tidak dijamin karena ada sejumlah pemalak.

Lapak jualan di pasar termegah di Papua Barat itu sudah terisi penuh. Satu lapak itu disewa Rp 300 ribu per bulan.

"Ini bukan masalah kami mau atau tidak mau, tapi ini masalah kami berjualan ini atas kemauan pembeli," katanya.

Selama masih ada pasar Sentral Remu Kota Sorong dan jembatan Puri, ucapnya, para pedagang tidak akan pindah ke pasar Moderen Rufei.

"Kami tidak akan pergi. Kami akan tetap berjualan di sini. Itu harga mati," ucapnya. (*)

 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved