Ruth Kreatif Olah Limbah di Manokwari Hingga Hasilnya Tembus Eropa, Semua Berawal dari Tanduk Sapi

"Mama ketemu tanduk sapi dibuang begitu saja, sampai bau dan banyak lalat di jembatan Pasar Wosi itu," kata Ruth Baransano

TRIBUNPAPUABARAT.COM/Kresensia Kurniawati Mala Pasa
Ruth Baransano, perajin barang bekas sekaligus UMKM 'New Art' yang sudah memamerkan produk hingga ke Benua Eropa, saat sedang menjaga stan New Art dalam Festival Ecotourism Papua Barat 2022 di MCM, Kamis (30/9/2022). 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Mendaur ulang limbah di sekitar lingkungannya merupakan prinsip Ruth Baransano (54). 

Mata perempuan kelahiran Manokwari, 18 Februari 1968, itu jeli melihat limbah yang berpotensi untut didaur ulang menjadi beragam bentuk kerajinan tangan bernilai seni tinggi.

Dia bercerita awal sebagai perajin kemudian mendirikan usaha mikro kecil menengah ( UMKM ) bernama New Art.

"Mama ketemu tanduk sapi dibuang begitu saja, sampai bau dan banyak lalat di jembatan Pasar Wosi itu. Mama pikir, sepertinya ini bisa dirangkai jadi sesuatu," ujarnya kepada wartawan ketika ditemui menjaga stan New Art dalam Festival Ecotourism Papua Barat 2022 di MCM, Kamis (30/9/2022).

Berkat tangan terampil Ruth Baransano, tanduk sapi tersebut diubah menjadi pot bunga. Peristiwa itu pada 1996.

Hasil olahan tandu sapi itu, Ruth Baransano bawa lagi ke Pasar Wosi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Dalam perjalanan ke Pasar Wosi, sambil menenteng pot dari tanduk sapi yang dilengkapi dengan bunga paskah buatannya, Ruth Baransano dicegat seorang pembeli.

Baca juga: Berawal Bimbingan Dosen, Mathias Kini Sukses Tekuni Usaha Pengolahan Limbah Kelapa

Karya pertama Ruth Baransano tersebut pun dibeli tanpa tawar-menawar. Sang pembeli membayar Rp 2 juta.

Saat itu, Ruth Baransano sempat kaget karena menyadari limbah ternyata bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah lebih banyak dibanding hasil jualan sayurnya.

"Saya mulai suruh anak-anak untuk kumpulkan tanduk sapi. Lalu, saya buat tempat lilin dari tanduk sapi. Kepala Dinas Perhubungan waktu itu beli dan suruh saya buat banyak karena mau dibawa ke Australia," kata perempuan asal Biak Numfor itu.

Hingga kini, Ruth Baransano sudah menghasilkan banyak kreasi mulai dari manik-manik seharga Rp 5 ribu sampai miniatur rumah kaki seribu yang dibandrol Rp 1 juta.

"Mama pergi ke mana, lihat sesuatu yang bisa diolah, itu yang mama bawa. Kemarin pulang dari Biak, bawa bunga kering, dicat lalu dijual dan laku. Orang-orang heran, tapi mama bilang 'itu sudah'. Intinya rajin, semua alam sudah siapkan," kata Ruth Baransano.

Kini, dalam sebulan, Ruth Baransano bisa meraup omzet hingga Rp 10 juta. Pemasukan itu cukup untuk membantu sang suami, yang bekerja sebagai  sopir, untuk menyekolahkan keenam anak mereka.

Baca juga: Elly Krey Seniman Manokwari, Manfaatkan Limbah Kayu Jadi Karya Seni, Ukirannya Sudah di Manca Negara

Perwakilan UMKM Papua Barat di Pameran Internasional

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved