KKP Apresiasi Kawasan Konservasi Laut Raja Ampat Raih Penghargaan Gold Blue Park

Raja Ampat berhasil meraih penghargaan Gold Blue Park untuk konservasi satwa liar laut yang luar biasa pada Konferensi Kelautan PBB

Penulis: redaksi | Editor: Fransiskus Salu Weking
Wonderful Indonesia
Dermaga di Pantai Waiwo, Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat dengan pemandangan alamnya. 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia mengapresiasi pengelolaan kawasan konservasi laut di Kepulauan Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.

Sehingga, berhasil meraih penghargaan Gold Blue Park untuk konservasi satwa liar laut yang luar biasa pada Konferensi Kelautan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Lisbon, Portugal, pertengahan Juli 2022.

Baca juga: StAR Indonesia Sematkan Nama Charlie Heatubun untuk Anak Hiu Belimbing Jantan yang Pertama Lahir

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Victor Gustaaf Manoppo mengatakan, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat atas prestasi tersebut.

Kawasan itu dikelola Badan Layanan Umum Daerah-Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Papua Barat.

"Keberhasilan ini menjadi kado istimewa untuk Papua Barat yang akan merayakan HUT ke-23 pada tanggal 12 Oktober 2022," kata Victor Gustaaf Manopoo dalam seminar internasional 'Seberapa Efektif Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Bermanfaat bagi Konservasi dan Wisata Pari Manta' di Jakarta, Selasa (11/10/2022).

Baca juga: Lewat Konservasi Ekosistem Laut, Raja Ampat Papua Barat Raih Penghargaan Tingkat Dunia Blue Park

Ia menuturkan, sejak tahun 2009 populasi manta karang di Raja Ampat mengalami pertumbuhan sekitar 8 persen per tahun, yang merupakan populasi pertama dan satu-satunya di dunia.

Keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi di Kepulauan Raja Ampat terbukti memberikan manfaat bagi pelestarian keanekaragaman hayati laut, maupun peningkatan mata pencaharian masyarakat setempat.

"Keberhasilan ini menjadi kado istimewa untuk Papua Barat yang akan merayakan HUT ke-23 pada tanggal 12 Oktober 2022," kata Victor Gustaaf Manopoo.

Baca juga: CEO EcoNusa: Langkah Konservasi di Papua Barat Harus Beri Manfaat ke Masyarakat Adat

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Konservasi Indonesia, Meizani Irmadhiany menuturkan, pengelolaan kawasan konservasi Kepulauan Raja Ampat telah diakui dunia internasional melalui penghargaan Blue Park tingkat emas.

Hal ini tidak terlepas dari pemanfaatan pariwisata yang berkelanjutan dari konservasi sumber daya alam.

"Kami ucapkan selamat untuk Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat juga seluruh masyarakat atas dukungan kearifan lokal," ujar Meizani.

Baca juga: Pemerintah Diminta Gelar Seminar Pengembangan Pariwisata di Kawasan Teluk Cendrawasih

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Papua Barat, Charlie D Heatubun menyampaikan terima kasih atas dukungan dari pemerintah pusat dalam hal ini Kementrian Kelautan dan Perikanan serta Konservasi Indonesia sebagai mitra pembangunan.

"Kami ucapkan banyak terima kasih, semoga apa yang kami capai akan tetap terjaga untuk kemaslahatan umat manusia," tutur Charlie D Heatubun.

Sebagai informasi, seminar Internasional yang digelar di Auditorium Tuna KKP, merupakan kolaborasi antara Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Konservasi Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Laguna Wayag Raja Ampat diumumkan sebagai lokasi pembesaran pari manta pertama di dunia yang terkonfirmasi secara ilmiah.

Hal ini menambah daftar keberhasilan Provinsi Papua Barat melalui BLUD UPTD Pengelola Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat dalam mengelola kawasan konservasi laut.(*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved