Berita Papua Barat

21 Tahun Tragedi Wasior Berdarah dan Klaim Fakta Baru Soal Pelanggaran HAM

Agus mengatakan tim PPHAM Papua telah berupaya mengkonfirmasi para korban di Wasior, berdasarkan data yang diperoleh dari Komnas HAM.

Penulis: Safwan Ashari | Editor: Tarsisius M
TribunPapuaBarat.com/Safwan Ashari
HAM WASIOR - Tim Asistensi PPHAM Papua, Dr Agus Sukule, memaparkan perihal fakta baru tragedi Wasior berdarah, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, Sabtu (5/11/2022). 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Tim Penyelesaian Pelanggaran Hak Asasi Manusia (PPHAM) Papua mengklaim mendapatkan fakta dan data baru perihal pelanggaran HAM di Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.

Klaim soal fakta tersebut diungkapkan Tim Asistensi PPHAM Papua Dr Agus Sumule, saat mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah tokoh di Manokwari, Papua Barat, Sabtu (5/11/2022).

Agus mengatakan tim PPHAM Papua telah berupaya mengkonfirmasi para korban di Wasior, berdasarkan data yang diperoleh dari Komnas HAM.

"Ini tentang rangkaian peristiwa dan data korban pelanggaran HAM di wilayah Wasior," ujar Agus Sumule.

"Dari hasil pertemuan itu, kami memperoleh beberapa nama korban yang belum tercantum dalam laporan Komnas HAM," kata Akademisi Universitas Papua itu.

Sejauh ini,  PPHAM Papua belum bersedia memerinci data-data baru soal pelanggaran HAM di wilayah Wasior tersebut. Alasannya, mereka akan mengolah kembali data-data tersebut.

Baca juga: Autopsi Jenazah 2 Korban Tragedi Kanjuruhan, Ayah Mereka Menangis Hingga Dibopong ke Mobil Ambulans

Tak hanya itu, Agus mengaku para korban sangat kecewa berkaitan dengan peristiwa yang terjadi 21 tahun silam.

"Peristiwa 21 tahun lalu itu dianggap baru mendapatkan perhatian dari pemerintah," ujarnya.

Selama ini, para korban pelanggaran HAM di Wasior hanya dikunjungi oleh beberapa pihak di luar pemerintah (LSM dan lainnya) di Papua.

"Secara umum para keluarga korban meminta perhatian dan tanggung jawab pemerintah atas penderitaan mereka dari peristiwa Wasior berdarah," kata Agus Sumule.

Mereka meminta agar perhatian tersebut harus diwujudkan berupa pergantian atas rumah yang telah dibakar saat tragedi Wasior berdarah.

Baca juga: Komnas HAM Sebut PSSI Langgar Aturan Sendiri dan Regulasi FIFA dalam Tragedi Kanjuruhan

"Mereka juga berbicara tentang pekerjaan anak-anak korban yang selama ini tidak bisa bersekolah," imbuhnya.

Para korban juga meminta agar kasus ini harus diselesaikan secara denda adat, atas kematian dan penderitaan fisik.

"Mereka juga meminta agar harus ada jaminan pendidikan kepada anak-anak korban," ujar Agus Sumule.

Saat PPHAM Papua melakukan pertemuan dengan para korban, mereka pun meminta kejelasan tentang tragedi pada 2001 dan menewaskan warga sipil itu.

"Mereka mengaku tidak mengetahui terkait rangkaian peristiwa pembunuhan lima anggota Brimob dan hilangnya enam pucuk senjata," katanya.

Karena itu, mereka meminta agar tragedi Wasior berdarah ini harus segera diselesaikan termasuk melalui proses yudisial. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved