Breaking News:

Sumur Tua di Pulau Mansinam Manokwari Digali Pakai Tempurung Kelapa, Airnya Tawar Meski Dekat Pantai

Sumur milik Van Hasselt ini dikerjakan bersama warga Pulau Mansinam yang menjadi anak didiknya pada 1872. 

Penulis: Infak Insaswar Mayor | Editor: Tarsisius M
TRIBUNPAPUABARAT.COM/INFAK INSASWAR MAYOR
SUMUR TUA : Sumur tua di Pulau Mansinam, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, yang dibangun Van Hasselt dan anak didiknya pada 1872. Foto diambil pada Sabtu (26/11/2022). 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Di Pulau Mansinam, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, terdapat  sumur tua milik Pendeta J L Van Hasselt.

Sumur milik Van Hasselt ini dikerjakan bersama warga Pulau Mansinam yang menjadi anak didiknya pada 1872. 

Ketua Jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) Lahai-Roi Mansinam, Pendeta Novita Burwos, mengatakan anak didik Van Hasselt diajarkan banyak hal di antaranya baca-tulis, membuat kerajinan tangan, dan menggali sumur.

Sumur yang berada persis samping kiri gereja Lahai-Roi dikerjakan memakai alat tradisional.

"Waktu dong (mereka) gali sumur itu pakai tempurung kelapa," kata Novita Burwos kepada TribunPapuaBarat.com.

Baca juga: Ada Pulau Mansinam, Ini 5 Wisata Papua Barat di Manokwari yang Tak Kalah Menarik dari Raja Ampat

Pada Juni 1872 sumur tua ini mulai dikerjakan. Tidak butuh waktu lama karena pada 21 Juli 1872 sumur ini mulai digunakan hingga saat ini.

Kedalaman sumur berkisar 12 meter dengan diameter 3. Ketinggian air sumur biasanya mencapai 4 meter.

Menurut Novita Burwos, air sumur yang berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai itu rasanya tawar alias tidak asin seperti air laut. 

Bahkan, air sumur itu bisa diminum langsung tanpa harus dimasak lebih dulu. 

Selain masyarakat Pulau Mansinam, yang sehari-hari mengkonsumsi air sumur itu adalah para pengunjung atau wisatawan.

Baca juga: Regina Siren, Warga Pulau Mansinam Sukses Jadi Pengrajin, Karyanya Bernilai Tinggi

"Keluarga atau pengunjung percaya air sumur bisa menyembuhkan," ucap Novita Burwos.

Air sumur yang diambil dan diminum, biasanya lebih dulu didoakan oleh pendeta atau majelis jemaat di gereja Lahai-Roi dan tidak diperjualbelikan.

Tidak ada tarif khusus bagi yang hendak mengkonsumsi air dari sumur tersebut.

Hanya ada kotak sumbangan sukarela untuk upaya perawatan dan pemeliharaan sumur tua tersebut.

Pengelola Pulau Mansinam memperindah sumur tua itu dengan pembetonan pada bagian atas sumur.

Selain itu, sumur tua itu diberi atap dan dipagari.(*)

 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved