Aktivis Prediksi HIV/AIDS di Manokwari pada 2023 Semakin Parah, Mahasiswa dan Siswa Paling Rawan

Peringatan Hari AIDS Nasional 2022 mengangkat tema "Satukan Langkah Cegah HIV, Semua Setara Akhiri AIDS".

ISTIMEWA/DOKUMENTASI PRIBADI EVERDINA WANGGAI
DETEKSI DINI - Jaringan Advokasi Sehat (JAS) menggelar kampanye HIV/AIDS dan periksa dini status HIV, beberapa waktu lalu di Pulau Lemon, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Hari AIDS Sedunia 2022 diperingati, Kamis (1/12/2022).

Saat yang sama, peringatan Hari AIDS Nasional 2022 mengangkat tema "Satukan Langkah Cegah HIV, Semua Setara Akhiri AIDS".

Seorang aktivis HIV/AIDS di Manokwari dari Jaringan Advokasi Sehat (JAS), Everdina Wanggai memaknai tema tersebut sebagai kesempatan untuk mempersiapkan gempuran di Tahun 2023.

Lantaran, Everdina Wanggai memprediksi pada tahun mendatang, temuan kasus positif HIV (Human Immunodeficiency Virus) di Papua Barat akan semakin banyak.

"Yah karena seks bebas semakin marak di Manokwari. Anak muda usia SMA dan kuliah paling rawan," kata Everdina Wanggai kepada TribunPapuaBarat.com di Manokwari, Kamis (1/12/2022).

Baca juga: Papua Barat dan Papua Tertinggi Kasus Anak-anak Terinfeksi HIV/AIDS se-Indonesia

Evi sapaannya menyebutkan, dalam sepak terjangnya sebagai pengelola program HIV/IMS di Puskesmas Wosi Manokwari sejak tahun 2013 hingga 2021, ia menemui tren peningkatan temuan kasus positif HIV pada usia belasan dan 20-an tahun.

Bahkan, untuk kasus meninggal karena sudah masuk level sangat parah yakni Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), berada di rentang usia 20-24 tahun.

Menurut Evi, salah satu penyebabnya adalah seks komersial berbasis online kian marak di Manokwari.

Sehingga, berganti-ganti pasangan untuk berhubungan badan tidak dapat dihindari.

Diperparah kebiasaan tak memakai alat kontrasepsi seperti kondom saat berhubungan intim.

Wanita yang telah menjadi pendamping orang dengan HIV (ODHIV) sejak 2013 hingga sekarang itu, menyebutkan, peran budaya juga mendukung peningkatan atau pengentasan kasus HIV di Papua Barat.

"Budaya kita kan tidak mengenal sunat, itu faktor kebersihan. Di kampung-kampung, menambah istri jadi hal biasa," terang Evi.

"Pola pembayaran mas kawin juga berpengaruh, ketika tidak sanggup, tidak jadi nikah, wanita atau prianya melampiaskan kekesalan dengan cara seks bebas," urainya.

Baca juga: Jaringan Advokasi Sehat Gencar Kampanyekan HIV/AIDS di Manokwari, 48 Orang Berani Deteksi Dini

Bagi Evi, hanya dengan menyatukan langkah lembaga adat, pemerintah dan lintas pihak lainnya, mampu mengembalikan nama baik Papua Barat dari salah satu penyumbang kasus HIV terbanyak di Indonesia.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved