Minggu, 3 Mei 2026

Berita Manokwari

BMKG: Hujan Deras Mengguyur Manokwari Bukan Bibit Badai, Tapi Belokan Angin

Sehingga, pembentukan awan Cumulonimbus, penyebab hujan deras disertai petir dan tiupan angin kencang meningkat di wilayah Manokwari.

Tayang: | Diperbarui:
zoom-inlihat foto BMKG: Hujan Deras Mengguyur Manokwari Bukan Bibit Badai, Tapi Belokan Angin
Tribunpapuabarat.com//Rachmat Julaini
Kepala Stasiun BMKG Rendani Manokwari, Daniel Tandi. 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Rendani Manokwari memastikan, hujan deras yang mengguyur Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, mulai Senin, (18/3/2024) bukan bibit badai.

Kepala BMKG Stasiun Rendani Manokwari Daniel Tandi mengatakan, wilayah Manokwari memang sedang memasuki puncak musim hujan dan masih akan berlangsung hingga akhir Maret 2024.

Sementara hujan deras disertai petir dan angin kencang yang terjadi di Manokwari beberapa hari terakhir, disebabkan adanya belokan angin atau shearline di sekitar wilayah Manokwari.

Baca juga: BMKG Torea Fakfak Keluarkan Peringatan Dini, Siklon Tropis Megan Teramati di Teluk Carpentaria

Baca juga: BMKG Torea Fakfak Ungkap Penyebab Angin Puting Beliung di Kampung Kotam 

“Sampai April masih turun hujan, walaupun bukan puncaknya. Setelah itu memasuki musim pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau,” ungkap Daniel Tandi saat diwawancarai TribunPapuaBarat.com via telepon dari Manokwari, Rabu (20/3/2024).

Ia menjelaskan, belokan angin ini menyebabkan pengumpulan awan di Manokwari, didukung dengan faktor suhu muka laut yang menghangat, kelembapan udara, dan tekanan udara rendah di Utara Pulau Papua.

Sehingga, pembentukan awan Cumulonimbus, penyebab hujan deras disertai petir dan tiupan angin kencang meningkat di wilayah Manokwari.

Ia melaporkan, data hujan terukur pada Senin, (18/3/2024) dari penakar hujan observatorium (obs) Rendani menunjukkan jumlah curah hujan sebanyak 66,3 mm/hari, dan obs Arfai sebanyak 53 mm/hari.

Sementara dari penakar hujan otomatis atau automatic rain gauge (arg) yang dipasang BMKG Manokwari di Unipa, Amban menunjukkan jumlah curah hujan sebanyak 164 mm/hari.

Ia mengatakan, dalam kategori intensitas curah hujan 24 jam, maka skala 50-100 mm/hari termasuk hujan lebat. Sementara curah hujan di atas 150 mm/hari dikategorikan hujan ekstrem.

Walaupun begitu, ucapnya, curah hujan tinggi yang berujung bencana hidrometeorologi sangat bergantung dari kondisi di daerah masing-masing.

Wilayah di sekitar sungai, tempat yang rendah maupun curam, daerah pesisir pantai merupakan daerah berisiko terjadi bencana hidrometeorologi.

Di antaranya banjir, longsor, banjir rob, banjir bandang, angin kencang, puting beliung dan gelombang tinggi.

Ia mencontohkan, daerah bantaran Kali Wosi rawan banjir walaupun curah hujan masih di skala 50 mm/hari.

Menurut dia, banjir di daerah Wosi pada Senin, (18/3) malam, akibat gabungan curah hujan beberapa wilayah karena letaknya yang rendah, sehingga air mengumpul di titik itu.

"Tiap daerah berbeda untuk daya serap air, tergantung apakah saluran airnya sampai tidak ke laut, tersumbat, besar kecilnya parit," ujarnya.

Kendati begitu, ia mengaku, wilayah Manokwari tetap terdampak anomali iklim La Nina, yaitu masih sering turun hujan di kala musim kemarau nanti.

Masyarakat dapat memanfaatkan laman resmi BMKG https://www.bmkg.go.id, untuk mengakses prakiraan cuaca detail hingga level kecamatan. 

Atau mengunduh aplikasi Info BMKG dan menghubungi call center 196 BMKG.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved