Idulfitri 2024
Tradisi Pegang Tangan Lebaran Jadi Momen Silaturahmi Warga Fakfak
Sekadar diketahui, tradisi jalan peta di Fakfak Papua Barat telah dilakukan secara turun temurun dan telah menjadi kebiasaan bersama.
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Libertus Manik Allo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Pegang-Tangan-Lebaran-1445.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Tradisi pegang tangan atau biasa disingkat peta saat lebaran di Kabupaten Fakfak Papua Barat, menjadi momentum silaturahmi untuk saling bermaaf-maafan.
Tradisi pegang tangan di Fakfak saat lebaran dilangsungkan pada hari pertama, usai umat Muslim melaksanakan Salat Id.
Pantauan TribunPapuaBarat.com Rabu (10/4/2024), hari pertama Lebaran di Fakfak, warga Muslim saling kunjung mengunjungi, baik sanak famili maupun sesama rekan kerja.
Baca juga: H-1 Idulfitri 1445 Hijriah, Baznas Fakfak Pusatkan Penerimaan Zakat di Masjid Al-Munawarah Puncak
Baca juga: Berikut 19 Lokasi Salat Idulfitri 1445 Hijriah di Manokwari
Dalam momen peta hari pertama, biasanya warga Muslim di Fakfak mengunjungi sanak saudara yang paling tertua.
Misalnya anak dan cucu mengunjungi kakek nenek mereka.
Dalam prosesi peta, mereka saling bermaaf-maafan dan terkadang menitikkan air mata mengenang momen-momen bersama.
Budaya peta di Fakfak Papua Barat, juga disemarakkan oleh anak-anak kecil yang membawa kantong plastik untuk membungkus segala cemilan, kue kering dan minuman kaleng.
Mereka biasanya berjalan bergerombol, dan mengetuk pintu dari rumah ke rumah untuk bertamu atau jalan peta, dengan meneriakan Minal Aidin Wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin.
Lebih jauh dari itu, dalam momen jalan peta di Fakfak Papua Barat juga diikuti oleh warga non muslim, yang ikut bersilaturahmi ke rumah-rumah, untuk bertamu, bercengkrama, dan saling bermaaf-maafan.
Warga muslim sangat menyambut baik kunjungan warga non muslim, dengan jamuan makan bersama.
Dalam wawancara kepada TribunPapuaBarat.com Rabu (10/4/2024), warga Distrik Fakfak kota Adriani Kastela (42) mengatakan tradisi jalan peta selalu rutin digelar tiap tahun, saat momentum perayaan hari-hari besar keagamaan.
"Tradisi peta adalah tradisi khas di Papua dan sangat kental dengan budaya toleransi serta menjunjung tinggi rasa persaudaraan," kata Adriani.
Dengan adanya jalan Peta, Adriani menjelaskan masyarakat dapat saling menghargai satu sama lain, dan mengenal hari raya masing-masing agama.
"Selalu punya spirit kekeluargaan, kita jalan peta dari rumah ke rumah itu untuk bisa silaturahmi dan tak hanya untuk seremoni saja tapi lebih dari itu, bisa mempererat persaudaraan antar sesama umat beragama," tambahnya.
Sekadar diketahui, tradisi jalan peta di Fakfak Papua Barat telah dilakukan secara turun temurun dan telah menjadi kebiasaan bersama.
Tradisi jalan peta bukan hanya soal seremonial saja, tetapi lebih dari itu sebagai wujud toleransi antar umat beragama.
(*)