Berita Manokwari
Distrik Sidey Nyaris Terisolasi, Hermus Indou Minta Warga Bersabar untuk Jembatan Sementara
Hermus pun tak menampik kalau luapan Kali Wariori disebabkan aktivitas tambang liar di hulu kali.
Penulis: Kresensia Kurniawati Mala Pasa | Editor: Libertus Manik Allo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/JW45.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI – Warga Distrik (Kecamatan) Sidey, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat nyaris terisolasi akibat kerusakan Jembatan Wariori.
Hal ini diakui Bupati Manokwari Hermus Indou usai meninjau Jembatan Wariori bersama Kapolda Papua Barat Brigjen Pol. Johnny Edison Isir, pada Selasa (21/5/2024).
“Kalau Jembatan (Wariori) itu putus, sudah masyarakat di Distrik Sidey dan sekitarnya pasti terisolasi,” ujar Bupati Manokwari Hermus Indou diwawancarai saat mengunjungi Distrik Tanah Rubuh, pada Rabu (22/5/2024).
Baca juga: Lewati Longsor, Hermus Indou Kunjungi Warga Terdampak di Tanah Rubuh
Baca juga: Dinas Sosial Manokwari Salurkan Bantuan Pangan untuk Korban Banjir Distrik Masni
Hermus mengatakan, pemerintah enggan membiarakan hal itu terjadi. Sehingga, dalam kurun waktu dua bulan ke depan, akan dibangun jembatan sementara.
Sambil pembangunan jembatan darurat, ia berharap masyarakat Distrik Sidey dan sekitarnya dapat bersabar dengan cara mengurangi aktivitas ke daerah perkotaaan Manokwari melewati Jembatan Wariori.
“Kalaupun ada hal-hal yang menyangkut kehidupan masyarakat dan butuh pelayanan ke Kota Manokwari dan lain sebagainya, tetap bersabar sampai dengan pemerintah mengusahakan jalan keluarnya untuk membangun jembatan darurat,” ungkap Hermus Indou.
Ia mengatakan, ruas jalan Jembatan Wariori yang menghubungkan Manokwari dengan kabupaten tetangga, yakni Kabupaten Tambrauw dan Sorong merupakan jalan nasional.
Sehingga, dalam pembuatan jembatan darurat nanti akan melibatkan Balai Kementerian PUPR di Papua Barat, Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Pemerintah Kabupaten Manokwari.
Hermus pun tak menampik kalau luapan Kali Wariori disebabkan aktivitas tambang liar di hulu kali.
Hal ini menurut Hermus, dapat diketahui dengan membandingkan kondisi Kali Wariori sebelum dan sesudah adanya tambang emas ilegal.
Ia menyebut, kerusakan di hulu Kali Wariori menyebabkan debit air tinggi dan membawa material turun, sehingga terjadi sedimentasi di sepanjang daerah aliran sungai Kali Warriori.
Aliran air Kali Wariori saat ini hampir sudah melampaui permukaan kawasan permukiman, maka tak ayal rumah warga tergenang banjir.
“Ternyata sebelum penambangan itu terjadi kondisi banjir dan luapan Kali Wariori tidak seperti yang sekarang ketika penambangan,” tandas Hermus.
(*)