Berita Fakfak
Syebu dan Butong bersama Generasi Tua Fakfak, Suara Jeritan Kembalikan Pangan Lokal
"Orang tua saya dulu adalah petani, kami manfaatkan lahan yang ada di dusun kami untuk berkebun, tanam keladi, petatas dan pisang," katanya.
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Libertus Manik Allo
"Kami merasa khawatir dengan jaman yang sudah berubah jauh begini, memang banyak kemajuan kalau kitorang (kita) lihat, tetapi identitas kita saya lihat mulai luntur," ujarnya.
Yohana Kabes mengatakan, ia tumbuh dan dibesarkan dengan memakan pangan lokal berupa keladi dan petatas.
"Kami dulu sama sekali tidak tahu beras ini, bahkan dulu takut juga mau makan beras, karena bagi kami keladi dan petatas ini sudah kita pu (punya) makanan hari-hari (setiap hari)," bebernya.
Ia bercerita, dulunya tak susah memperoleh keladi isi satu, namun kini sudah mulai sulit ditemukan dan bukan tidak mungkin keladi dan petatas akan menyusul hilang tanpa jejak.
"Orang tua saya dulu adalah petani, kami manfaatkan lahan yang ada di dusun kami untuk berkebun, tanam keladi, petatas dan pisang," katanya.
Sehingga dikatakannya, kala itu untuk memenuhi makanan sehari-hari tinggal pergi ke kebun untuk mengambil keladi atau petatas kemudian diolah dan dikonsumsi.
"Kami tidak perlu kasi keluar (mengeluarkan) uang untuk belanja beras seperti sekarang ini, tetapi kita bergerak bercocok tanam untuk bisa makan, makanya kita sehat-sehat karena banyak gerak," ucapnya.
Yohana Kabes mengaku prihatin dengan kondisi saat ini di Fakfak, di mana generasi muda sudah mulai melupakan pangan lokal.
"Kalau kita lihat di pasar, yang jualan pangan lokal saja sudah jarang sekali, dan kalau ada yang jual keladi dan petatas itu mahal sekali misalnya 1 tumpuk petatas Rp 50.000 dan 6 sampai 5 keladi itu biasa Rp 100.000 baru ukurannya kecil-kecil," tandasnya.
Ia mempunyai harapan besar, agar pemerintah bisa menggaungkan kembali konsumsi pangan lokal dengan memperhatikan dari hulu ke hilir.
"Sekarang hanya kitorang-kitorang saja yang sudah tua yang berkebun, tetapi anak muda sudah tidak ada, jadi ini akan putus di generasi kita," khawatirnya.
Sehingga, dari lahan yang harus tersedia, kondisi tanah, hingga kampanye konsumsi pangan lokal kembali digalakkan.
Sementara itu, salah satu Tokoh Perempuan Fakfak, Eni Kapaur mengatakan saat ini pemerintah memang sudah mulai menggaungkan kembali konsumsi pangan lokal.
"Kalau kita lihat di acara-acara pemerintah sudah mulai disajikan juga pangan lokal Fakfak, tetapi itu saja tidak cukup, harus ada usaha dan perhatian lebih serius," tandasnya.
Eni Kapaur mengatakan, kebijakan Pemerintah Provinsi Papua Barat yakni Two Days No Rice atau 2 hari tanpa makan nasi tentu positif dalam mengembalikan kejayaan pangan lokal.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.