Murid SD Inpres 45 Arowi Keracunan
Soal 12 Murid SD Keracunan Menu MBG, Ombudsman: Kami Segera Cek Dapurnya
Amus Atkana mengatakan sempat memantau situasi di SD Inpres 45 Arowi, Kabupaten Manokwari.
Penulis: Fransiskus Irianto Tiwan | Editor: Tarsisius Sutomonaio
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Amus-Atkana-di-RSUD-Manokwari.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Kepala Perwakilan Ombudsman Papua Barat, Amus Atkana, memantau kondisi murid-murid keracunan makanan di RSUD Manokwari, Rabu (30/7/2025).
Menurutnya, 12 murid SD Inpres 45 Arowi, ada 1 siswa SMPN 3 Manokwari yang keracunan makanan setelah menyantap menu program makan bergizi gratis (MBG).
Amus Atkana mengaku sempat memantau situasi di SD Inpres 45 Arowi, Kabupaten Manokwari.
Ia mengatakan pihak sekolah membantu menangani murid-murid yang keracunan makanan, termasuk mengantar beberapa orang ke rumah sakit dan puskesmas.
Baca juga: BREAKING NEWS - Belasan Murid SD Inpres 45 Arowi Manokwari Keracunan Makanan
Sejauh ini, Amus Atkana belum mengetahui dapur MBG asal makanan yang disantap murid-murid SD Inpres 45 Arowi.
"Kami belum tahu dari dapur mana. Ada beberapa dapur di Manokwari. Ada yang menangani wilayah Amban, kota, dan Pasir Putih," ucapnya di RSUD Manokwari.
Ia menyebut Ombudsman Papua Barat segera mengecek dari MBG asal makanan itu.
"Kami akan kontinyu memonitor masalah ini karena sekolah sebagai pihak penerima," kata Amus Atkana.
Menurutnya, menu MBG dikelola oleh pihak ketiga atau pihak swasta.
Baca juga: 70 Siswa SMAN Siwalima Ambon Keracunan Makanan Setelah Menyantap Makanan dari Sekolah
Ia mengatakan Ombudsman Papua Barat sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan untuk menangani masalah keracunan makanan ini.
Amus juga berharap agar Dinas Kesehatan dan Badan Gizi Nasional/Daerah akan lebih memperhatikan penyediaan makanan program MBG.
"Kami ingin memastikan kejadian ini agar tidak terulang. Program MBG ini baik, tapi perlu dibenahi."
"Dari masalah ini, tata kelola dan manajemen program MBG harus lebih baik lagi," ujar Amus Atkana.