SLB Pertama di Kaimana
SLB Negeri Terpadu Kaimana Kekurangan Guru dan Terapis untuk Anak Autis
Selain kekurangan guru dengan latar belakang sesuai, SLB Negeri Terpadu Kaimana juga masih membutuhkan tenaga terapi khusus untuk siswa autis
Penulis: Arfat Jempot | Editor: Hans Arnold Kapisa
TRIBUNPAPUABARAT.COM, KAIMANA – Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Terpadu Kaimana masih menghadapi keterbatasan tenaga pendidik dan terapis.
Saat ini, sekolah yang dipimpin oleh Monika Mira Saludung, hanya memiliki delapan tenaga pendamping dan pengajar.
Namun, menurut Mira, tidak semua guru memiliki latar belakang pendidikan luar sekolah sebagaimana mestinya. Kondisi ini membuat proses rekrutmen semakin sulit.
“Seharusnya basic pendidikannya itu pendidikan luar sekolah. Saya sedikit kesulitan untuk merekrut tenaga pengajar dengan basic tersebut,” ujar Monika Mira Saludung kepada TribunPapuabarat.com, Jumat (31/10/2025).
Selain kekurangan guru dengan latar belakang sesuai, SLB Negeri Terpadu Kaimana juga masih membutuhkan tenaga terapi khusus untuk siswa autis.
Mira menjelaskan, beberapa anak di sekolah tersebut memiliki hambatan mental maupun hiperaktif, sehingga membutuhkan penanganan profesional.
Baca juga: Dari 28 ke 35 Murid: SLB Negeri Terpadu Kaimana Tumbuh bersama Anak-anak Istimewa
“Anak-anak seperti itu harus ditangani oleh terapis, bukan guru. Ini yang membuat kami masih kewalahan,” kata Monika Mira Saludung.
Mira menambahkan, pihaknya telah menyampaikan kebutuhan tenaga terapis kepada Dinas Pendidikan Papua Barat.
Permintaan serupa juga sudah disampaikan kepada Dinas Sosial Kaimana dan Dinas Kesehatan Papua Barat saat melakukan kunjungan ke sekolah.
“Kami berharap secepatnya kebutuhan tenaga terapis ini bisa dipenuhi, agar anak-anak autis mendapat pendampingan yang tepat,” ujar Monika Mira Saludung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/anak-di-SLB-Kaimana.jpg)