Sebulan Akses Internet di Jayapura Putus, Pendapatan Jasa Pengiriman dan Travel Menurun Drastis
Putusnya akses internet di Jayapura, Papua, berimbas negatif terhadap usaha jasa pengiriman dan travel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Suasana-di-kantor-JNE-Jln-Sam-Ratulangi-APO-Distrik-Jayapura-Utara.jpg)
Laporan Wartawan TribunPapuaBarat.com, Safwan Ashari Raharusun
TRIBUNPAPUABARAT.COM - Putusnya akses internet di Jayapura, Papua, sejak sebulan lalu berimbas negatif terhadap usaha jasa pengiriman dan travel.
Staf Travel Borneo Nusantara, Haswindah mengaku, putusnya jaringan internet sangat mempengaruhi aktivitas dan membuat pemasukannya menurun.
"Penjualan di bulan ini tentu sangat turun, pemasukan kita berada di bawah 70 persen. Karena semua penjualan tergantung pada internet," ujar Haswindah, Senin (31/5/2021).
Biasanya, kata Haswindah, pihaknya langsung melayani masyarakat yang hendak bepergian ke luar daerah.
Namun, saat akses internet putus, ia mengaku sulit berkomunikasi dengan calon pelanggan.
Baca juga: Kapolda Papua Sebut 11 Terduga Teroris di Merauke 5 Kali Rencanakan Pengeboman: Tapi Selalu Gagal
"Sekarang ini kalau ada yang mau membeli tiket, palingan titip nomor kontak di kantor, sambil menunggu kita mencari jaringan internet," ucapnya.
"Kalau ada gangguan seperti ini otomatis kita tetap lumpuh."
Apalagi, hingga kini pihaknya pun belum mendapatkan informasi yang pasti terkait kapan akses internet akan pulih total.
"Hingga kini tidak ada informasi resmi dari pihak Telkom terkait dengan akses jaringan internet," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Sucianti, staf JNE yang mengalami hal serupa.
Ia menyebut putusnya akses internet sangat berpengaruh terhadap pendapatan JNE.
"Biasanya kita layani kepada masyarakat hanya butuh waktu 3 hari, namun, saat ini memakan waktu lebih dari 2 minggu," ucap Sucianti.
Input data yang seharusnya bisa dilakukan online kini hanya bisa dilakukan secara offline.
Baca juga: Kepala BPKAD Mamberamo Raya Papua Ditahan, Diduga Korupsi Dana Covid-19 Rp 3,1 Miliar untuk Pilkada
Hal itu, kata Sucianti, sangat tidak efisien sehingga banyak calon pelanggan yang membatalkan pengiriman.