Asrama Mahasiswa asal Kabupaten Jayapura di Manokwari tak Layak Huni, Buang Air Susah
Kondisi Asrama Mahasiswa asal Kabupaten Jayapura tak layak huni, para mahasiswa mencurahkan keluh kesahnya
Penulis: Demas Yona Kornelius Wamaer | Editor: Jefri Susetio
Laporan Wartawan Tribunpapuabarat.com, Austhein Erixon Yakarimilena
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Sejumlah mahasiswa asal Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua mencurahkan keluh kesah terkait kondisi asrama di Manokwari. Secara keseluruhan kondisi asrama sudah tak layak huni.
Seorang mahasiswa, Joice Kromsian mengatakan, kondisi asrama mahasiswa Kabupaten Jayapura, di Kota Manokwari sangat memprihatinkan. Karena itu, mereka seperti anak tiri karena minim perhatian.
"Saya datang dari Jayapura untuk kuliah di Manokwari dan tinggal di asrama mahasiswa Kabupaten Jayapura. Gampang-gampang susah karena fasilitasnya buruk," ujarnya kepada Tribunpapuabarat.com, Selasa (21/6/2022).
Ia menjelaskan, mahasiswa asal Kabupaten Jayapura yang tinggal di asrama mayoritas kuliah di Universitas Papua (UNIPA).
"Mungkin orang tahu, ada asrama mahasiswa Kabupaten Jayapura di Manokwari. Tapi kami yang tinggal, merasa nama kabupaten ini seperti cuma nama saja," kata mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIPA ini.
Asrama mahasiswa Kabupaten Jayapura berada di Jalan Sumber Jaya, Kelurahan Amban, RT 003, RW 008, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Sedangkan, Sekretaris Pengurus Asrama Mahasiswa Kabupaten Jayapura, Paula Kere, mengungkapkan, mereka sudah bolak-balik meminta bantuan dan perhatian Pemerintah Kabupaten Jayapura.
"Pemerintah tolong perhatikan kami di sini. Terakhir pada Desember 2020 kami penghuni asrama sempat bertemu Ibu Sekda Jayaputra. Saat ini, kami bicara kebutuhan mahasiswa di asrama ini," ujarnya.
Tatkala melakukan wawacara, ia juga membawa Tribunpapuabarat.com ke sejumlah fasilitas asrama yang rusak. Seperti, kamar mandi, lemari pakaian dan meja belajar yang hancur.
"Kalau Kakak lihat, itu beberapa fasilitas asrama sudah tidak digunakan. Seperti, meja dan lemari sudah lapuk-lapuk," katanya.
Selain itu, kata Paula, mandi saja harus antre, sehingga membuat para penghuni wanita tidak nyaman.
"Untuk keadaan ini, kita rasa kurang sekali mau mandi saja antre. Kami perempuan itu setengah mati, kalau mau buang air, harus antre karena cuma satu saja kamar mandi yang bagus," ujarnya mahasiswa asal Sentani ini.
Lebih lanjut, ia bilang tidak ada dukungan biaya studi seperti beasiswa. Jadi, mereka harus mengeluarkan biaya kebutuhan hidup secara mandiri.
"Kami sudah seperti keluarga di asrama, sudah seperti tinggal dalam rumah sendiri, jadi saling bantu. Tapi kalau kondisi aset sudah tidak layak pakai, kami mengeluh ke siapa lagi," ungkapnya.
(*)