Hambat Laju Perubahan Iklim, Ari Mantoro Gagas EBT Energi Surya di Papua Barat
2 Kampung di Papua Barat Terang Tanpa Setrum PLN, Ari Mantoro Gagas EBT Energi Surya, uji coba di Tambrauw
Penulis: Libertus Manik Allo | Editor: Jefri Susetio
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Direktur-Eksekutif-Pioner-Tanah-Papua-Ari-Mantoro.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI- Direktur Eksekutif Pioner Tanah Papua, Ari Mantoro mengatakan, perlu penerapan teknologi energi baru dan terbarukan (EBT) yakni energi surya untuk menghambat perubahan iklim.
"EBT adalah pembangkit listrik yang tidak menghasilkan karbon yang dapat menyebabkan efek gas rumah kaca," ujarnya saat berbincang dengan TribunPapuaBarat.com di kantornya Jalan Gunung Salju Manggoapi, Kelurahan Amban, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Kamis (04/08/2022).
Saat ini, organisasi yang dipimpinnya dengan WWF sedang melakukan percobaan penerapan teknologi EBT di Kampung Resye dan Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat.
Baca juga: 5 Usulan Penataan Kawasan Manokwari Dieksekusi 2023, Pj Gubernur dan Bupati Jumpa Menteri PUPR
Baca juga: Pesan Pj Gubernur Papua Barat untuk Peserta Turnamen Futsal Merdeka Cup: Jaga Kebersamaan
"Melalui program voice just for climate action (VCA)" katanya.
Adapun alasan penerapan EBT pada dua kampung itu karena masih terisolir dan belum masuk listrik.
"Akses ke dua kampung itu hanya bisa menggunakan kapal laut. Selain itu belum ada listrik. Ada listrik tapi harus beli Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk aktifkan generator set (Genset)" kata Ari Mantoro.
Ia mengungkapkan, dalam upaya wujudkan pilot project Kampung Hijau atau Green Village, mereka telah melakukan survei potensi energi surya dengan melibatkan dosen.
Satu di antaranya dosen Universitas Papua (UNIPA) Abdul Zaid Pattiran. Kegiatan itu sebagai mitigasi perubahan iklim dari sektor energi.
Sebab, sebagian besar pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
"Dari kegiatan yang kami lakukan, diharapkan akan ada data terkait potensi tenaga surya. Dan kebutuhan listrik masyarakat Kampung Resye dan Womom," ucapnya.
Menurutnya, hasil survey yang telah dilakukannya akan digunakan sebagai bahan advokasi ke pemerintah ataupun pihak lain dalam upaya pemenuhan energi listrik yang berkeadilan untuk daerah terisolir.
"Selain itu harapannya dengan adanya energi listrik dapat membantu masyarakat untuk menggerakkan ekonomi kampung melalui Badan Usaha Milik Kampung (Bumkam)," ungkapnya.
(*)