Cerita Fia, Penjual Pentol Goreng di Pasar Wosi Manokwari, Sehari Bisa Raup Rp 3 Juta
Cerita Fia, Penjual Pentol Goreng di Pasar Wosi Manokwari, Sehari Bisa Raup Rp 3 Juta, begini kisahnya
Penulis: Kresensia Kurniawati Mala Pasa | Editor: Jefri Susetio
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Pasar Wosi merupakan pasar tradisional terbesar di Kabupaten Manokwari.
Maka tak heran, banyak pedagang yang memilih setia menjejalkan dagangannya di pasar yang terletak di Kelurahan Wosi, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Papua Barat itu.
Satu di antara pedagang yang sehari-hari berjualan di pasar itu adalah Fia. Ia mengaku sudah menjual pentol goreng sejak dua tahun lalu.
Baca juga: Harga Telur Ayam di Pasar Wosi Manokwari Mulai Naik, Begini Harga Terkininya
Baca juga: Wakil Ketua KNPI Sebut Harus Ada Alokasi Khusus untuk Peningkatan Prestasi Olahraga
"Saya memang dari awal sudah jualan di Pasar Wosi sini. Selain dekat dengan kontrakan, Pasar Wosi kan terkenal juga karena ramainya," kata dia saat ditemui TribunPapuaBarat.com, Selasa (23/8/2022).
Saban hari ia berjualan mulai pukul 09.00 WIT hingga 19.00 WIT. Ibu tiga orang anak ini, memarkirkan gerobak jualan pentol gorengnya di Pasar Wosi.
Hanya bermodal payung berwarna pelangi, untuk melindungi dari terik matahari dan guyuran hujan, Fia dengan sabar melayani pesanan pembeli.
Pentolan rebus yang telah digoreng dengan kocokan telur tersebut, dibanderol Rp 1000 per pentol.
"Saya baru akan pulang kalau pentolan sudah habis dan Alhamdulillah setiap hari pasti habis," ujar wanita asal Lampung itu.
Alhasil, Fia bisa meraup omzet sebesar Rp 3 juta dalam sehari.
Baca juga: Menilik Keseharian Pekerja Muatan Pasir Amban Pantai, Penghasilan Capai Rp 2 Juta
Baca juga: Putri Pj Bupati Sorong Jesica Gloria Mosso Wakili Papua Barat pada Ajang Miss Interglobal Indonesia
Dari penghasilan itulah, Fia belajar bertahan hidup di tanah perantauan sembari menyisihkan uang untuk biaya sekolah kedua anaknya.
Anak pertamanya berusia 15 tahun, kini tengah duduk di bangku kelas tiga SMP.
Sedang anak keduanya yang berusia 10 tahun, masih berstatus murid kelas lima sekolah dasar.
"Anak saya yang ketiga masih umur satu tahun. Harapannya, anak-anak harus sekolah, supaya nasibnya lebih baik dari kita orang tua," katanya dengan mata berkaca-kaca.
Pernah Terancam Gulung Tikar
Fia mengungkapkan, usaha pentol gorengnya sempat terancam gulung tikar. Sebab, adanya kenaikan harga bahan baku. Seperti, minyak goreng dan teluar ayam.
Dia menyebut, harga minyak goreng pernah tembus Rp 40 ribu per liter. Dan, berbarengan dengan harga telur ayam yang mencapai Rp 100 ribu per rak.
"Waktu itu kita tidak berdaya, hanya pakai sisa uang untuk beli sayur dan ikan," ujarnya.
Namun, kini Fia bisa menarik napas lega. Setelah harga minyak goreng kembali normal, di angka Rp 20 ribu per liter.
Dia berharap, harga telur ayam ras yang kini sudah Rp 65 ribu per rak di pasaran, tidak lebih tinggi dari itu.
Sebaliknya, harga telur ayam ras per rak yang isinya 30 butir tersebut bisa turun kembali di kisaran harga Rp 40 ribu hingga Rp 45 ribu.
"Setiap hari saya pakai enam rak telur. Jadi, kalau harga telur naik terus, susah sudah saya," kata Fia.
(*)