Tradisi Barapen Papua, Cara Unik Pengolahan Makanan yang Sarat Makna
Seluruh masyarakat dalam satu kampung akan terlibat dalam pesta bakar batu, bahkan warga dari kampung tetangga turut diundang untuk berpartisipasi
Penulis: Kresensia Kurniawati Mala Pasa | Editor: Elias Andi Ponganan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/barapen.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Barapen atau bakar batu adalah tradisi untuk memasak makanan seperti daging, sayuran dan umbi-umbian menggunakan medio batu yang terlebih dahulu dibakar.
Selain unik, pesta bakar batu yang menjadi tradisi khas masyarakat asli Papua sarat akan makna mulai dari kebersamaan, ungkapan syukur hingga penyelesaian konflik etnik.
Wakil Dekan I Fakultas Sastra & Budaya, Universitas Papua, George A. F. Mentansan mengatakan, dalam tradisi barapen nilai kebersamaan dan gotong royong menjadi yang paling utama.
Seluruh masyarakat dalam satu kampung akan terlibat dalam pesta bakar batu, bahkan warga dari kampung tetangga turut diundang untuk berpartisipasi.
"Nilai kebersamaan dan gotong royong adalah yang paling utama," kata George A F Mentansan saat ditemui awak media di Manokwari, Kamis (13/10/2022).
Baca juga: PENELITIAN Bakar Batu alias Barapen Antarkan Para Siswa Papua Barat Raih Emas di Ajang Nasional
Baca juga: Ramah Lingkungan, Kemasan Barapen BARNI Jadi Keunggulan Papua Barat hingga Raih Emas di Malaysia
Ia melanjutkan, setiap warga kampung akan menyumbang bahan makan seperti sayur, ikan, pisang, singkong, dan daging.
Kebersamaan juga terlihat ketika proses pengolahan makanan menggunakan medio batu yang dibakar.
Meksipun dalam barapen, hampir seluruh pekerjaan dilakukan oleh pria dan wanita dewasa, namun remaja dan kaum jompo juga terlibat aktif.
Setelah makan matang, seluruh masyarakat kampung berkumpul untuk menyantap makanan tersebut secara bersama-sama.
"Makanan yang tidak habis saat itu, bisa dibawa pulang. Intinya tidak ada yang tersisa di tempat berlangsungnya barapen," tuturnya.
Baca juga: Mengenal Petrus Saiba, Anak Papua Peraih Medali Emas Sains Internasional Berkat Meneliti Barapen
Kendati dikerjakan secara bersama, lanjut dia, namun para perintis barapen telah mengenal pembagian tugas yang jelas.
Kaum perempuan diberi tugas menyiapkan sayur-mayur, ikan dan hewan yang akan dimasak.
Sedangkan kaum pria, berkewajiban mengumpulkan kayu bakar dan batu. Lalu memanaskan batu sesuai kebiasaan di daerahnya.
Jenis sayur dari hasil kebun yang lazim dipakai seperti daun singkong, daun dan bunga pepaya, dan daun ubi jalar atau yang disebut penduduk lokal sebagai sayur garnison.
Daging yang dimasak hanyalah ikan dan babi, kemudian hasil buruan di hutan seperti kuskus dan tikus hutan juga ikut dipanggang.
Baca juga: Profil Sarah Simanjuntak, Bawa Papua Barat Raih Emas di Sains Internasional, Angkat Tradisi Barapen