Perangkat Kampung Suntik Dana Desa ke KKB, LMA Papua Barat: Modus Selamatkan Diri
Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Barat ikut menyayangkan adanya oknum aparat kampung menyuntik dana desa ke Kelompok Kiminal Bersenjata (KKB).
Penulis: Safwan Ashari | Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Frengky-Umpain-mengatakan-serangan-KKB-yang-menewaskan-empat-warga-bukan-budaya-orang-Papua.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Barat ikut menyayangkan adanya oknum aparat kampung menyuntik dana desa ke Kelompok Kiminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat.
Hal ini diungkapkan Ketua Harian LMA Papua Barat Franky Umpain.
"Kita memang sesalkan dan sayangkan dengan adanya aparat kampung yang memberikan dana desa ke KKB," ujar Franky, kepada TribunPapuaBarat.com, Jumat (21/10/2022).
Baca juga: Bupati Bintuni Sebut Dana Desa Mengalir ke KKB, Begini Reaksi Pj Gubernur Papua Barat
Harusnya, dana yang disalurkan untuk kepentingan pembangunan di desa-desa di Kabupaten Teluk Bintuni.
"Jangan jadikan intimidasi untuk modus dalam menyelamatkan diri dari laporan pertanggungjawaban," tuturnya.
Secara kemanusiaan, dirinya pun ikut perihatin dengan adanya tindakan intimidasi dari kelompok separatis.
Hanya saja, tidak boleh menjadi momen untuk aparat kampung lolos dalam laporan pertanggungjawaban ke pemerintah.
"Wajar menaruh praduga tak bersalah, kita di Papua segala momentum tetap akan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu," jelasnya.
Selaras dengan ini, fenomena dalam memanfaatkan situasi adalah seperti Gubernur Papua Lukas Enembe.
"Enembe saja bisa menggunakan masyarakat untuk mengamankan dirinya saat ada momentum," kata Franky.
Untuk itu, ia meminta agar pemerintah setempat harus bisa membuktikan fakta terkait aliran dana ke KKB di Bintuni.
Baca juga: Detik-detik KKB Rampok dan Aniaya 9 Orang Termasuk Prajurit TNI di Paniai, Minta Senjata dan Amunisi
Kriminal Murni
Menurut Franky, peristiwa yang terjadi di Moskona, Teluk Bintuni, Papua Barat merupakan murni kriminalitas.
"Kasus yang terjadi di Teluk Bintuni, kami melihat itu tidak ada sangkut paut dengan ideologi manapun," ucapnya.