Jalan Panjang Soleman Marien Jadi Guru, 25 Tahun Mengabdi untuk Anak-anak Papua Bebas Buta Aksara

"Satu prinsip yang saya tanamkan di murid saya, khususnya anak-anak Papua. Kenapa orang lain bisa, kita tidak," kata Soleman Marien alias Pak Marien

TRIBUNPAPUABARAT.COM/KRESENSIA KURNIAWATI MALA PASA
HARI GURU - Soleman Marien (57), Kepala SD YPK 19 Firdaus Arowi yang telah mengabdi menjadi guru selama 25 tahun. Ia berbagi kisahnya pada HUT ke-77 PGRI dan Hari Guru Nasional di Lapangan Borasi, Manokwari, Papua Barat, Jumat (25/11/2022) siang. 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Menjadi guru bukanlah cita-cita awal Soleman Marien yang kini Kepala SD Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) 19 Firdaus Arowi, Distrik Manokwari Timur, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Ketika masih kanak-kanak, pria kelahiran Biak, 8 Mei 1965, itu bermimpi menjadi pilot tiap kali melihat pesawat melintas di langit Biak, Papua.

Pada 1986, Soleman Marien mendapat tawaran masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Mandala Biak yang akan dibiayai sang paman.

Solemen Marien mengiyakannya lantaran teringat sebagai anak kedelapan dari sembilan bersaudara, belum satupun yang menempuh pendidikan setinggi SPG.

"Setelah saya masuk SPG, saya diajar metode mengajar, dari situ saya mulai suka jadi guru," kata Soleman Marien kepada TribunPapuaBarat.com di Lapangan Borasi, Manokwari, Papua Barat, Jumat (25/11/2022) siang.

Baca juga: Banyak Guru di Papua Barat Belum Profesional, Akademisi UNIPA: Belum Cukup 20 Persen

Berkenalan dengan ilmu pendidikan atau pedagogik, menyadarkan Soleman Marien tentang titik lemah pendidikan yang pernah ia rasakan.

Pria yang akrab disapa Pak Marien ini pernah merasakan buta aksara kendati sudah tiga tahun duduk di bangku SD.

"Setelah masuk SPG baru saya mengerti, ternyata salah satu penyebabnya itu karena cara mengajar guru," kata Pak Marien yang telah 25 tahun menjadi guru.

Sejak saat itu, Pak Marien bertekad untuk mengentas buta aksara di kalangan anak-anak Papua.

Menurut dia, cara mengajar yang baik di tingkat sekolah dasar yaitu memastikan anak didik harus bisa baca, tulis dan hitung (calistung).

"Pertama kasih kenal mereka huruf, baru kata, kalimat, akhirnya paragraf. Kalau mereka sudah bisa baru kita tambah pelajaran lainnya," kata Pak Marien.

Baca juga: Pemprov Papua Barat Akui Minim Tenaga Guru di Pelosok: Kita Berikan Kuota Khusus

Selama di SPG itu jugalah, Pak Marien belajar arti kedisiplinan dengan jadwal teratur setiap harinya. 

Dia ingat betul pesan mendiang gurunya di SPG, Pak Koibur, bahwa anak yang terlahir dari keluarga miskin harus berjuang lebih keras. Agar kelak sukses, bisa mengangkat harkat keluarganya.

Hasrat Pak Marien harus lulus SPG saat itu sudah bulat. Untuk itu, dia rela menjadi tukang potong rumput dari siang pulang sekolah hingga menjelang sore.

Halaman
123
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved