Papua Barat dan Papua Tertinggi Kasus Anak-anak Terinfeksi HIV/AIDS se-Indonesia
Dari catatan Kementerian Kesehatan, 12.553 penderita AIDS di Indonesia adalah anak berusia di bawah 14 tahun. Papua Barat dan Papua tertinggi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Kampanye-Bahaya-HIV-AIDS.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM - Papua dan Papua Barat tercatat sebagai dua provinsi terbanyak kasus terinfeksi HIV/AID pada anak-anak.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi, mengatakan kasus terinfeksi HIV/AIDS pada anak-anak di Papua dan Papua Barat mencapai 1,8 persen.
Padahal, ucap Imran Pambudi, revalensi HIV di sebagian besar Indonesia adalah 0,26 persen.
Dari catatan Kementerian Kesehatan, 12.553 penderita AIDS di Indonesia adalah anak berusia di bawah 14 tahun.
Jumlah tersebut merupakan data yang dirangkum sejak tahun 2010 hingga 2022.
Menurut Imran Pambudi, 7.800 dari 12.553 anak penderita AIDS sudah melakukan pengobatan.
Baca juga: Ikatan Alumni FK Uncen Sosialisasikan Bahaya HIV/AIDS untuk Pelajar di Manokwari
"Anak laki-laki penderita HIV/AIDS lebih banyak dibandingkan anak perempuan," kata Imran Pambudi dalam pres briefing Hari AIDS Sedunia 2022 yang ditayangkan di Youtube Kementerian Kesehatan RI.
Ia mengatakan pemerintah terus melacak sebaran kasus HIV di seluruh Indonesia.
"Tantangan terbesar dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia adalah masih dirasakan ketidaksetaraan dalam pelayanan penderita, khususnya pada perempuan, anak, dan remaja," ujar Imran Pambudi
Para penderita HIV/AIDS di Indonesia, ucapnya, masih mendapat stigma negatif dan diskriminasi yang berawal dari kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS.
Situasi tersebut menghambat para orang tua penderita untuk akses pengetahuan dan akses layanan kesehatan.
Meskipun begitu, Kemenkes mengklaim ada kemajuan dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia selama 2010 hingga 2020.
Baca juga: Jaringan Advokasi Sehat Manokwari, Lembaga yang Kampanyekan Bahaya HIV/AIDS di Masyarakat
Penuruan kasus HIV itu sebagai dampak akselerasi pengendalian yang berfokus pada intervensi pencegahan dan ekspansi berskala besar dengan terapi anti-retroviral.
"Kalau dibandingkan dengan targetnya, masih perlu upaya-upaya yang lebih kuat untuk mencapai target apalagi setelah terjadi pandemi Covid-19 yang menurunkan cakupan program kesehatan," ujar Imran Pambudi.
Menurutnya Kemenkes memiliki misi untuk mengakhiri epidemi HIV/AIDS pada tahun 2023.