BKKBN Papua Barat Yakin Program ''Semesta Mencegah Stunting'' Bisa Menjangkau Hingga ke Pelosok

Stevanus Rambe menyebut dua dari lima daerah yang memiliki kenaikan prevalensi stunting paling tinggi adalah Pegunungan Arfak dan Kabupaten Manokwari

Penulis: redaksi | Editor: Tarsisius Sutomonaio
Tribunpapuabarat.com
Koordinator Pokja Bidang Keluarga Berencana (KB) BKKBN Papua Barat, Stevanus Rambe (tengah), saat mengikuti peluncuran nasional serentak program 'Semesta Mencegah Stunting' di studio TribunPapuaBarat.com,Selasa (21/3/2023). 

TRIBUNPAPUABARAT.COM - Koordinator Pokja Bidang Keluarga Berencana (KB) BKKBN Papua Barat, Stevanus Rambe, yakin program 'Semesta Mencegah Stunting' akan efektif untuk menangani stunting di Papua Barat.

Program ini merupakan kerja sama BKKBN dan Tribun Network dalam upaya pengentasan stunting di seluruh Indonesia, termasuk Papua Barat.

BKKBN dan Tribun Network juga melibatkan sejumlah pihak dalam program selama enam bulan ini.

"Kerja sama penanganan stunting ini akan efektif karena informasi stunting bisa sampai ke distrik, bahkan desa. Begitupun pencegahannya, bisa sampai ke pelosok," katanya setelah mengikuti peluncuran nasional serentak program 'Semesta Mencegah Stunting' di studio TribunPapuaBarat.com, pada Selasa (21/3/2023).

Selama ini, ucap Stevanus Rambe, BKKBN Papua sudah memiliki satuan gugus tugas (satgas) dan orang tua asuh penanganan stunting.

Baca juga: Kisah Kakak Asuh Semesta Mencegah Stunting, Tergerak Dukung Kampanye CukupDuaTelur

 

Semakin banyak program dan pihak yang terlibat, ucapnya, penanganan stunting di Papua Barat pun bisa lebih cepat.

Sejauh ini, Papua Barat masuk daftar provinsi yang memiliki prevalensi stunting tertinggi di Indonesia.

Pada 2022, prevalensi stunting di Papua Barat mencapai 30 persen, naik dari 26,2 pada tahun sebelumnya.

Stevanus Rambe menyebut dua dari lima daerah yang memiliki kenaikan prevalensi stunting paling tinggi adalah Kabupaten Pegunungan Arfak dan Kabupaten Manokwari.

Baca juga: Kampanye CukupDuaTelur BKKBN, Tribun Network Sukseskan Program Cegah Stunting di Indonesia

Di Pegunungan Arfak, ucapnya, kenaikan mencapai 10 persen dari 40,1 persen pada 2021 menjadi 50,1 persen pada 2022.

"Di Kabupaten Manokwari, kenaikan 9,7 persen. Dari 26,9 persen pada 2021, menjadi 36,9 persen pada 2022," kata Stevanus Rambe.

Kenaikan prevalensi stunting itu, ucapnya, mungkin saja karena belum semua kasus stunting terdata pada 2021, misalnya karena pendataan belum sampai ke desa-desa.

Baca juga: Cegah Kasus Stunting, Pemda Maybrat Bagi-bagi Telur untuk Pelajar dan Warga

"Bisa jadi juga karena memang ada kenaikan kasus dalam setahun terakhir," ujarnya.

BKKBN, katanya, mengajak sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk lebih bersatu dan maksimal dalam pencegahan dan penanganan stunting.

OPD-OPD itu antara lain Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Kesehatan (Dinkes).

Ia juga berharap, pemerintah kabupaten/kota hingga pemerintahan kampung atau desa lebih intensif menangani stunting.

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved