Umat Katolik Padati Gereja Santa Monika Kaimana Saat Minggu Palma
Dalam tradisi Gereja Katolik, ucapnya, daun palma merupakan simbol kemenangan Yesus atas maut serta simbol kehidupan, harapan, dan berkat.
Penulis: Arfat Jempot | Editor: Tarsisius Sutomonaio
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Suasana-misa-Minggu-Palma-di-Gereja-Santa-Monika.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, KAIMANA - Ratusan umat Katolik Santa Monika Kaimana, Papua Barat, merayakan Minggu Palma di Gereja Santa Monika, Minggu (2/4/2023).
Pemimpin misa, Pater Aloysius Du'a OSA, mengatakan Gereja Katolik seluruh dunia merayakan hari Minggu Palma sebagai pembuka Pekan Suci.
Minggu Palma untuk mengenang Yesus saat memasuki Kota Yerusalem sebelum wafat di kayu salib.
Saat itu, Yesus dieluk-elukkan dan disebut 'Hosana Putra Daud'.
Dalam tradisi Gereja Katolik, ucapnya, daun palma merupakan simbol kemenangan Yesus atas maut serta simbol kehidupan, harapan, dan berkat.
Baca juga: Awali Pekan Suci, Umat Katolik di Manokwari Rayakan Misa Minggu Palma
"Perarakan memakai ranting palem dimulai 2000 tahun lalu. Pada abad ke-5, banyak orang Yerusalem berkumpul di Bukit Zaitun kemudian berarakan untuk memasuki kota Yerusalem," kata Aloysius Du'a.
Daun palma yang telah diberkati lalu disimpan orang setiap umat Katolik.
Pada tahun berikutnya, daun palma itu dikumpulkan kemudian dibakar.
Baca juga: Umat Paroki Santo Arnoldus Janssen Kota Sorong Rayakan Misa Minggu Palma
Abu pembakaran daun palma itu digunakan pada hari Rabu Abu, pembukaan masa puasa atau pra Paskah.
Menutup kotbahnya, Pastor Aloysius mengajak umat Katolik Santa Monika Kaimana agar setia bersama Yesus yang menderita hingga wafat di salib demi menebus dosa-dosa manusia.