Berita Papua Barat

Melkias Werinussa: Subsidi Biaya Angkut Bisa Jadi Opsi Cegah Kenaikan Inflasi Daerah

Contohnya, mensubsidi ongkos angkutan pesawat di Kabupaten Teluk Wondama yang disebutnya kini berjalan.

Penulis: R Julaini | Editor: Libertus Manik Allo
Tribunpapuabarat.com//Rachmat Julaini
Asisten II Sekretariat Daerah Papua Barat, Melkias Werinussa. 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Papua Barat, Melkias Werinussa menyatakan belum ada keputusan untuk mensubsidi ongkos transportasi atau biaya angkutan untuk menurunkan inflasi daerah.

Menurutnya, subsidi ongkos transportasi bisa menjadi kebijakan untuk mencegah tingginya inflasi Papua Barat yang kini melebihi empat persen.

Disebutnya, ada anggaran cadangan yang dapat digunakan untuk digunakan sebagai subsidi.

Baca juga: Agustus 2023, Inflasi Manokwari Tertinggi di Indonesia, Bupati Ungkap Langkah Percepatan Penurunan 

Baca juga: Tekan Laju Inflasi dari Sektor Perikanan di Manokwari, Hermus Indou Akan Operasikan BUMD Akhir 2023

"Sempat disinggung bahwa kita bisa menggunakan alokasi anggaran cadangan," kata Melkias saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Rabu (6/9/2023).

Melkias Werinussa meyakini pencegahan inflasi dapat dilakukan dengan mensubsidi ongkos transportasi.

Contohnya, mensubsidi ongkos angkutan pesawat di Kabupaten Teluk Wondama yang disebutnya kini berjalan.

Subsidi dengan demikian mempermudah akses distribusi barang.

"Kalau tidak begitu, ya harga jual di pasar akan tetap tinggi," terangnya.

Upaya lain yang dinilai penting ialah penyerapan beras petani melalui subsidi.

Dikatakan Melkias Werinussa, jatah beras pegawai dan TNI-Polri, Badan Urusan Logistik (Bulog) bisa menyerap beras petani.

Hanya saja, harga di tingkat pemerintah cuma Rp 8 ribu. Sedangkan di tingkat petani mencapai Rp 10 ribu.

"Selisih ini (Rp 2 ribu) yang kemudian kita disubsidi," ungkapnya.

"Tapi ada batas waktunya. Kalau sudah bisa berjalan bagus kita lepas (subsidinya)," sambung Melkias Werinussa.

Contoh lain ialah subsidi biaya transportasi untuk menyerap pasar sayuran dari Kabupaten Pegunungan Arfak.

"Disana sayurnya bagus-bagus. Wortel misalnya," katanya.

Namun, menurut Melkias Werinussa akibat tidak punya kelompok, warga yang mengangkut sayur dari Pegunungan Arfak terkadang menjual sayur hanya untuk menutupi ongkos angkutan.

"Itupun kalau habis (jualannya). Nah kalau tidak?" tanya Melkias.

Langkah penyerapan hasil tani dan kebun selain dipercaya menurunkan inflasi daerah, juga dianggapnya upaya mencegah kelangkaan pangan di daerah.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved