Berita Fakfak
Berikut Pengakuan Pelaku Penyerangan Distrik Kramomongga
Menurut Daniel, jaringan terafiliasi Kelompok Kriminal Bersenjata telah lama ada di Kabupaten Fakfak, dan kali ini ingin menunjukkan eksistensinya
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Libertus Manik Allo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Pengakuan-pelaku.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Polda Papua Barat terus melakukan pengejaran terhadap pelaku penyerangan Distrik Kramomongga, Fakfak.
Hingga saat ini, sudah ada beberapa pelaku yang berhasil ditangkap.
Selain itu, aparat kepolisian juga melakukan tindakan terukur kepada para pelaku yang mencoba menyerang petugas.
Baca juga: Kapolda Sebut Satu Pelaku Penyerangan Distrik Kramomongga Miliki Keterampilan Khusus Berperang
Baca juga: Bukan Dana Desa, Polisi Ungkap Motif Penyerangan Distrik Kramomongga Fakfak
Dari hasil pemeriksaan, para pelaku mengakui beberapa aksi yang sempat menghebohkan Kota Pala, merupakan perbuatan mereka.
Yakni, pembakaran SD Mamur, SMPN 4 Kokas, Kantor Distrok Kramomongga, Distrik Fakfak Tengah hingga penganiayaan Kepala Distrik Darson Hegemur.
"Itu berdasarkan pengakuan pelaku yang berhasil kami tangkap," kata Kapolda Papua Barat Irjen Pol Daniel Tahi Monang Silitonga saat menggelar konfrensi pers di Mapolres Fakfak, Rabu (13/9/2023).
Menurut Daniel, jaringan terafiliasi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) telah lama ada di Kabupaten Fakfak, dan kali ini ingin menunjukkan eksistensinya.
Sebab, dari data yang dimiliki kejadian semacam ini bukan baru sekali terjadi di Fakfak.
Kejadian serupa pernah terjadi pada 2019 dan dilakukan penindakan.
"Mungkin karena tidak dilakukan pembersihan secara menyeluruh, maka sisa-sisanya masih ada, berakar dan berkembang lagi," ujarnya.
Kapolda Daniel juga menyebutkan, satu pelaku yang berasal dari Timika Papua Tengah, dimungkinkan berpindah-pindah.
Karena masih masuk dalam pencarian Polda Papua.
Jenderal berdarah Batak itu menuturkan, dari hasil pertemuan pihaknya bersama tokoh masyarakat, tokoh adat termasuk raja-raja bersama Bupati Fakfak Untung Tamsil, telah diputuskan untuk memperkokoh kembali eksistensi pemerintahan.
"Termasuk pemerintahan yang ada di desa, distrik sampai pada di kabupaten. Untuk mengecek nilai-nilai dan menanamkan kembali rasa keindonesiaan dari pendidikan paling dasar," ungkapnya.
Lanjut Daniel, pihaknya belum bisa memastikan apakah pelaku yang berasal dari Timika merupakan bagian dari KNPB.