Luapan Kali Mati Ancam Permukiman Kampung Tobou, Tokoh Pemuda Minta Pemerintah Pasang Bronjong
"Ketika Kali Mati meluap, dampaknya bukan hanya ke Kampung Tobou, tapi juga beberapa kampung lain sekitarnya di antaranya Kampung Hamawi,"
Penulis: Elias Andi Ponganan | Editor: Tarsisius Sutomonaio
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Warga-menunjuk-dampak-luapan-Kali-Mati-di-Kampung-Tobou.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANSEL – Aliran Kali Mati meluap di lahan warga dan mengancam permukiman warga di Kampung Tobou, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan.
Karena itu, warga minta untuk dibangunkan bronjong dan normalisasi kali.
Tokoh pemuda Kampung Tobou, Jefri Mandacan, mengatakan kali mati ini tidak jauh dari permukiman warga.
Di lahan pembangunan SMP YPPGI, jarak ke Kali Mati kurang lebih 20 meter.
"Kami mendorong agar menjadi perhatian pemerintah Provinsi Papua Barat atau balai terkait untuk tahun 2024 agar dipasangkan bronjong," katanya saat ditemui, Selasa (26/9/2023).
Baca juga: Hujan Deras Buat Kali Meluap, Warga Teluk Wondama Mengungsi
Pemasangan bronjong itu, ucap Jefri Mandacan, sampai ke arah Kodim untuk melindungi permukiman warga di Kampung Tobou dan SMP YPPGI.
"Ketika Kali Mati meluap, dampaknya bukan hanya ke Kampung Tobou, tapi juga beberapa kampung lain sekitarnya di antaranya Kampung Hamawi," kata Jefri Mandacan.
Ia juga mengkhawatirkan terjadinya abrasi di Kali Mati.
Baca juga: BMKG Prediksikan Potensi Banjir di Sejumlah Kabupaten se-Papua Barat, Ini Daerahnya
"Saat ini, mungkin kali belum ke sini, tetapi sewaktu-waktu aliran air akan mengikis terus ke arah permukiman warga kalau kita tak cepat ditangani. Arus air di Kali Mati ini terus berpindah-pindah," katanya.
"Saya berharap pemerintah serius untuk memperhatikan hal ini. Jangan tunggu terjadi, baru atasi karena itu sudah terlambat,” ujar Jefri Mandacan.
Menurutnya, pada Desember 2019, dipicu hujan hampir sebulan, Kali Mati meluap hingga airnya masuk ke rumah-rumah warga.