Berita Fakfak
Pemkab Fakfak Segera Resmikan Pabrik Kelapa Sawit di Bomberai dan Tomage
Widi Asmoro mengungkapkan, pabrik kepala sawit yang bakal diresmikan ini berdiri di lahan seluas 10 hektar
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Libertus Manik Allo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Pabrik-Sawit-di-bomberay.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Fakfak segera meresmikan pabrik kelapa sawit di Distrik Bomberai dan Tomage.
Plt Kepala Dinas (Kadis) Perkebunan Fakfak Widi Asmoro Jati mengatakan, peresmian pabrik sawit milik PT Rimbun Sawit Papua di Bomberai dan Tomage dilaksanakan pada 20 Januari 2024.
"Peresmian pabrik sawit di Bomberai dan Tomage diharapkan bisa membuka lapangan kerja, dan juga berkontribusi terhadap profit Dana Bagi Hasil (DBH)," kata Widi Asmoro kepada TribunPapuaBarat.com di Fakfak, Rabu (17/1/2024).
Baca juga: Untung Tamsil Tinjau Pabrik Kelapa Sawit di Bomberai, Optimis Diresmikan Januari 2024
Baca juga: Pabrik Sawit Kembali Beroperasi, PT MPHS Siap Dukung Pembangunan Daerah
Widi Asmoro mengungkapkan, pabrik kepala sawit yang bakal diresmikan ini berdiri di lahan seluas 10 hektar, dengan luasan izin usaha perkebunan hampir 32.000 hektar.
Sehingga dengan luasan tersebut pihak perusahaan akan menggunakan dua strategi yakni perkebunan inti dan plasma.
"Khusus untuk perkebunan plasma, tentunya ada bagian dari CSR yang disiapkan guna kepentingan masyarakat. Serta saat ini sudah ada 3.655 hektar dari seluruh lahan yang ditanam yakni 19.980 hektar," ujarnya.
Widi mengungkapkan, masyarakat mendapatkan keuntungan terbesar dari lahan plasma.
"Selain itu memang ada sebuah harapan dalam rencana aksi sawit itu, lahan-lahan masyarakat yang kiranya masih kosong itu bisa diisi dan difasilitasi rimbun sawit sehingga pada akhirnya ada keberlanjutan," ungkapnya.
Ditanya soal produk turunan dari sawit, Widi mengemukakan Pabrik Sawit ini akan mengelola CPO saja dan kemudian akan dikemas secara baik.
"Dalam pabrik ini sistemnya akan mengelola kelapa sawit menjadi minyak yang disebut CPO dan diversifikasi produknya akan diturunkan pada produk turunan, seperti termasuk yang kita konsumsi hari ini ialah minyak goreng," katanya.
(*)