BP dan Chubu Electric Sepakat Perluas Kolaborasi: Studi Potensi hub & klaster CCS internasional
CEO Divisi Bisnis Global di Chubu Electric, Hiroki Sato optimis CCUS adalah salah satu elemen penting dalam perjalanan dekarbonisasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Bp-24-berau.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, JAKARTA – Setelah berhasil menyelesaikan studi kelayakan CCS Nagoya tahun ini, BP Berau Ltd (BP) dan Chubu Electric Power Co., Inc (Chubu Electric) memperluas kolaborasi.
Perluasan kolaborasi itu untuk menelusuri rantai nilai CCS dari Pelabuhan Nagoya, Jepang, ke lapangan Tangguh di Teluk Bintuni, Papua Barat.
Kolaborasi yang lebih luas ini tertuang dalam amendemen nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani BP, sebagai operator kontrak kerja sama (PSC) Tangguh, dan Chubu Electric.
Baca juga: BP Berau Ltd Bekerja Sama dengan ITB untuk Teknologi Penangkapan dan Penyimpanan Karbon
Baca juga: Kisah Balita Stunting di Teluk Bintuni yang Sehat Berkat Program GOTA BP Tangguh
Penandatanganan MoU ini dilakukan oleh , BP Regional President Asia Pasifik, Gas and Low Carbon Energy, Kathy Wu serta CEO Divisi Bisnis Global di Chubu Electric, Hiroki Sato di hotel The St Regis Jakarta pada hari kedua Pertemuan Tingkat Menteri Asia Zero Emission Community (AZEC).
MoU ini mengubah dan memperluas cakupan MoU yang sebelumnya ditandatangani pada September 2023, dan kini mencakup evaluasi optimisasi biaya pada rantai nilai CCS serta model bisnis untuk membuat proyek CCS komersial dari Nagoya, Jepang, ke Tangguh di Indonesia.
"Amendemen MoU ini menandai kelanjutan kolaborasi antara Chubu dan bp, bersama para mitra Tangguh. Seiring dengan terlibatnya masyarakat di AZEC dan mencari cara untuk mendukung agenda net zero Asia, kolaborasi ini menunjukkan peran kami dalam memajukan dekarbonisasi di wilayah Asia," kata Kathy dalam siaran persnya yang diterima Tribun, Jumat (23/8/2024).
Sementara itu, CEO Divisi Bisnis Global di Chubu Electric, Hiroki Sato optimis CCUS adalah salah satu elemen penting dalam perjalanan dekarbonisasi.
"Tanpa diragukan lagi, bp adalah mitra yang sangat diandalkan bagi Chubu. Dengan memanfaatkan kesempatan dari acara bersejarah ini, saya berharap dapat melanjutkan proyek CCUS Pelabuhan Nagoya dengan dukungan dari Pemerintah Indonesia dan Jepang," ujar Hiroki Sato.
MoU yang lebih luas ini juga mencakup identifikasi persyaratan hukum untuk hub dan klaster berskala besar, serta model bisnis yang memungkinkan.
Terrmasuk insentif dan model pendanaan yang dibutuhkan untuk mewujudkan proyek CCS komersial.
MoU ini juga mencakup optimisasi infrastruktur darat, pencairan dan pengiriman CO2 berskala besar, pengadaan, serta pengoperasian kapal-kapal CO2.
BP dan Chubu Electric menargetkan emisi net zero CO2 dari kegiatan operasi mereka pada tahun 2050.
Pelabuhan Nagoya adalah pelabuhan terbesar di Jepang berdasarkan volume kargo, menyumbang 3 persen dari total emisi CO2 di Jepan.
Pelabuhan ini telah menetapkan target untuk mengurangi emisinya sebesar 46 % pada tahun fiskal 2030 dibandingkan dengan tahun fiskal 2013.
(*)