Berita Fakfak

Syebu dan Butong bersama Generasi Tua Fakfak, Suara Jeritan Kembalikan Pangan Lokal 

"Orang tua saya dulu adalah petani, kami manfaatkan lahan yang ada di dusun kami untuk berkebun, tanam keladi, petatas dan pisang," katanya. 

Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Libertus Manik Allo
TribunPapuaBarat.com//Aldi Bimantara
Potret mama-mama Papua di Kabupaten Fakfak Papua Barat mengkonsumsi pangan lokal berupa syebu (petatas atau ubi jalar) dan butong (keladi isi banyak), Jumat (27/9/2024). 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Program berasisasi yang dikeluarkan Pemerintah era Presiden Soeharto tak sedikit mengubah konsumsi bahan pangan pokok masyarakat yang semula beragam menjadi satu jenis yakni beras.

Selain itu, kebijakan ini juga mematikan eksistensi pangan lokal yang sebelumnya berkembang subur di daerah-daerah, karena peminatnya menurun. 

Salah satu dampak tentunya di Kabupaten Fakfak Papua Barat, di mana telah terjadi pola perubahan konsumsi masyarakat adat dari pangan lokal ke beras.

Baca juga: Pemkab Fakfak Kembali Galakkan Kampanye Konsumsi Pangan Lokal, Ini Kata Muhamad Soleh

Baca juga: Karakteristik Wilayah Jadi Tantangan Pengembangan Pangan Lokal di Fakfak 

Dalam 5 tahun terakhir terhitung dari tahun 2019 hingga 2023, TribunPapuaBarat menemukan data dari BPS Kabupaten Fakfak di mana kisaran rata-rata pengeluaran per kapita warga selama sebulan untuk membeli beras yakni Rp 75.035 hingga Rp 86.731.

Mirisnya, angka tersebut menunjukkan pengeluaran yang signifikan dari masyarakat lokal di Fakfak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras. 

Padahal nyatanya, mata pencaharian masyarakat lokal mayoritas tak menentu dan bersifat musiman, misalnya dengan menjadi petani pala. 

Dengan menjadi petani pala, tak menandakan warga lokal di Fakfak sejahtera, sebab musim panen pala biasanya baru 6 bulan sekali. 

Kebutuhan akan membeli beras tentunya meningkat, karena banyak anak cucu yang sudah mulai ketergantungan dengan beras.

Padahal ragam pangan lokal yang dikenal masyarakat Fakfak sejak dulu cukup banyak, mulai dari sagu, syebu (petatas atau ubi jalar), butong (keladi isi banyak) dan Nombow (Pisang). 

Sementara itu, sayur gedi dan sayur tagas-tagas (gabungan dari daun pepaya, daun singkong, daun ubi serta bunga pepaya) juga menjadi sayuran yang biasanya dikonsumsi. 

Warga lokal di Kabupaten Fakfak Papua Barat juga biasanya menyediakan ikan segar dan kepiting sebagai santapan menemani pangan lokal

Pengolahan pangan lokal menjadi santapan khas yang lezat di Fakfak juga sebetulnya bisa diterima di semua lidah, contohnya keladi tumbuk. 

Kekhawatiran Generasi Tua 

Seiring perkembangan jaman, para generasi tua yang merupakan masyarakat lokal di Kabupaten Fakfak Papua Barat punya kekhawatiran tersendiri akan eksistensi pangan lokal

Itu disampaikan mama Yohana Kabes (65) kepada TribunPapuaBarat.com saat diwawancarai di Fakfak Papua Barat, Jumat (27/9/2024). 

Halaman
123
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved