OPINI
Perubahan Iklim sebagai Masalah Menahun Komoditas Padi, Bagaimana Solusinya?
Tercapainya produksi padi yang optimal akan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat serta menjaga ketersediaan dan harga beras
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Erwin-Septia-Aji-Statistisi-Ahli-PertamaBPS-Provinsi-Papua-Barat.jpg)
Penulis: Erwin Septia Aji
Statistisi Ahli Pertama BPS Provinsi Papua Barat
TRIBUNPAPUABARAT.COM - Beras masih menjadi primadona bagi mayoritas penduduk Indonesia, tidak terkecuali
untuk Provinsi Papua Barat.
Berdasarkan hasil susenas 2023, komoditas beras menduduki peringkat pertama komoditas pangan yang dikonsumsi masyarakat Papua Barat dengan persentase per kapita per bulan sebesar 6,12 kg.
Kebutuhan akan komoditas ini semakin meningkat seiring dengan terus bertambahnya penduduk di provinsi dengan logo kasuari ini.
Peningkatan jumlah permintaan ini tentu harus diimbangi dengan stok beras, baik dari dalam maupun luar daerah.
Pemenuhan kebutuhan beras di Provinsi Papua Barat diperoleh dari produksi lokal maupun dari luar provinsi.
Satu di antara solusi untuk pemenuhan kebutuhan akan beras adalah dengan melakukan impor dari provinsi lain serta peningkatan produksi lokal.
Baca juga: Kolonel Inf Aswin Kartawijaya Tinjau Sawah Padi Gogo 184 Hektare di Distrik Bomberai, Ini Pesannya
Dalam pemenuhan produksi pangan lokal ini, kendala yang tidak dapat dihindari adalah perubahan iklim. Hal ini
disebabkan oleh pemanasan global dan efek rumah kaca.
Perubahan ini menyebabkan terjadinya El Nino dan La Nina yang berdampak pada ketidakpastian dalam penentuan
musim tanam serta pergeseran waktu tanam.
Masalah ini berimbas pada luas area panen dan produksi padi. Produksi padi yang tidak menentu menyebabkan terganggunya pasokan beras untuk kebutuhan masyarakat Papua Barat.
Pembahasan perubahan iklim bukan hanya sekedar pergeseran tanam, namun juga resiko gagal panen yang meningkat akibat kondisi alam yang tidak menentu, seperti banjir maupun kekeringan.
Selain itu, faktor hama juga memperparah masalah terhadap komoditas padi.
Baca juga: Agustinus Warbaal: Lahan Sawit di Papua Barat Masih Potensial untuk Tumpang Sari Padi dan Jagung
Luas panen pada tahun 2023 mengalami penurunan sebesar 8,32 persen dari 5,46 ribu hektare menjadi 5,01 ribu hektare.
Dengan penurunan luas panen ini tentu berimbas penurunan produksi beras sebesar 5,83 persen (data BPS).
| Mendidik Generasi Muda Papua Tanpa Arogansi: Sebuah Prespektif Tua |
|
|---|
| Gereja dan Judi Pembangunan: Mempertaruhkan Nasib Papua di Meja Makan Nasional |
|
|---|
| Status Platydemus manokwari: Spesies Lokal vs Invasif Global |
|
|---|
| Teologi Tanah dan Nubuatan I.S. Kijne: Spiritualitas yang Berakar di Bumi Cenderawasih |
|
|---|
| OPINI: Pergeseran 900 ASN ke Papua Barat Daya, Dikhawatirkan Ganggu Layanan Publik 6 Kabupaten/Kota |
|
|---|