KSDA: Cagar Alam Pegunungan Fakfak Dirusak Bisa Berakibat Krisis Air Bersih
Kawasan Cagar Alam Pegunungan Fakfak menopang tiga daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi tumpuan hidup masyarakat di Kabupaten Fakfak
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Tarsisius Sutomonaio
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Sebuah-plang-masih-terpasang-di-Kawasan-Kali-Mati-dalam-Cagar-Alam-Pegunungan-Fakfak.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Kerusakan Cagar Alam Pegunungan Fakfak akan membuat warga setempat dibayang-bayang krisis air bersih yang berkepanjangan.
Kepala Seksi KSDA Wilayah IV Kaimana, Brian Stevano, menyampaikan hal itu menyusul masuknya alat berat untuk mengeksekusi sejumlah pohon sesuai putusan Pengadilan Negeri Fakfak,
Menurutnya, Kawasan Cagar Alam Pegunungan Fakfak menopang tiga daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi tumpuan hidup masyarakat di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Ada Sungai Werba yang dikembangkan menjadi pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) oleh PLN UP3 Fakfak.
Lalu terdapat Sungai Gewerpe dan Sungai Air Besar untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat Fakfak.
Baca juga: Pertahankan Plang Cagar Alam di Kalimati Fakfak, KSDA Siap Tempuh Langkah Hukum
"Secara ekologi, struktur geologi Cagar Alam Pegunungan Fakfak tersusun dari batuan karst (gamping) yang memiliki porositas dan permeable yang tinggi," ujar Brian Stevano kepada TribunPapuaBarat.com di Fakfak, Selasa (20/1/2026).
Ia menyebutkan, vegetasi di permukaan tanah Kawasan Cagar Alam Pegunungan Fakfak berfungsi untuk menahan air tidak habis terserap dan mengalir melalui air permukaan (sungai) dan air dalam.
"Ketika tidak ada vegetasi, air tidak tertahan lagi, sungai kering, sumber air dalam kering karena air langsung terserap dan mengalir ke hilir (laut) tanpa penahan," katanya.
Termasuk potensi banjir saat hujan hingga kekeringan saat musim kemarau.
"Vegetasi yang ada di Cagar Alam Pegunungan Fakfak terbentuk melalui evolusi jutaan tahun, ketika mengalami kerusakan, butuh waktu lama untuk pulih," ujarnya.
Baca juga: BBKSDA: Cenderawasih Terancam Punah di Areal Cagar Alam Pegunungan Fakfak
Ia membeberkan, adanya aktivitas perambahan selama ini saja sudah mengurangi debit air untuk kebutuhan masyarakat Kabupaten Fakfak.
"PDAM Fakfak mengelola sumber air berasal dari Cagar Alam Pegunungan Fakfak untuk kebutuhan seluruh masyarakat Kabupaten Fakfak," ujar Brian Stevano.
Bahkan, ucapnya, Bak air PDAM terdapat di dalam Kawasan Cagar Alam Pegunungan Fakfak Papua Barat tersebut.
"Pada prinsipnya, Cagar Alam Pegunungan Fakfak mempunyai fungsi penting hidrologis. Kebutuhan air masyarakat Fakfak bersumber dari tiga DAS yang sangat tergantung dari kelestarian Cagar Alam Pegunungan Fakfak," katanya.
Ia mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Fakfak untuk menjaga Kawasan Cagar Alam Pegunungan Fakfak.(*)
| Kodim 1801/Manokwari dan Media Bersatu Dukung Pembangunan Daerah dalam NKRI |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Papua Barat Kamis 14 Mei 2026, Sejumlah Wilayah Diguyur Hujan |
|
|---|
| Warga Saniari Keluhkan Krisis Air Bersih dan Penerangan dalam Kunker DPRK Teluk Bintuni |
|
|---|
| Disdikbudpora Teluk Bintuni Klarifikasi Keterlambatan Bansos Pendidikan 2026 |
|
|---|
| 8.000 Peserta PBI Jaminan Kesehatan di Fakfak Dinonaktifkan Kemensos, Ini Sebabnya |
|
|---|