Jumat, 8 Mei 2026

Info Fakfak

Sosok Arga Ramadhana, Doktor Jebolan Tailan Pertama di Politeknik Negeri Fakfak

Mulai dari pengalaman ditipu saat pertama tiba di Sorong, hingga harus menyesuaikan cara komunikasi dengan intonasi lebih tegas

Tayang:
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Hans Arnold Kapisa
zoom-inlihat foto Sosok Arga Ramadhana, Doktor Jebolan Tailan Pertama di Politeknik Negeri Fakfak
istimewa/Arga Ramadhana
POLINEF - Sosok Arga Ramadhana (32) dosen muda yang kini menjadi dosen bergelar doktor pertama di Kampus Politeknik Negeri Fakfak (Polinef) Papua Barat membagikan kisah perjalanannya hingga mengabdi ke Tanah Papua dan menyampaikan pesan inspiratif untuk generasi muda Papua, Jumat (8/5/2026) 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Sosok Arga Ramadhana (32) mencuri perhatian sebagai dosen bergelar doktor pertama di Politeknik Negeri Fakfak (Polinef).

Gelar doktor diraih setelah menyelesaikan studi S3 Philosophy in Industrial Business Administration di KMITL Business School, Tailan, pada tahun 2025.

Arga memulai kariernya di Polinef pada 2021 sebagai tenaga kontrak.

Awalnya ia hanya berniat singgah sebentar, namun dorongan hati dan saran sang kekasih (istrinya saat ini) membuatnya memilih jalur CPNS di Kementerian Pendidikan dengan penempatan di Polinef. 

Pada pertengahan 2022, ia resmi lolos seleksi dan mengabdi di Tanah Papua.

“Selama tes banyak suka duka, bahkan tiga hari sebelum ujian orangtua saya berpulang. Namun berkat tekad dan motivasi, saya tetap melanjutkan proses hingga akhirnya lolos,” kenangnya.

Mengabdi di Tanah Papua

Arga mengaku awalnya hanya ingin tahu kondisi pendidikan di Papua. Namun rasa kagum terhadap potensi mahasiswa membuatnya bertahan hingga kini.

“Anak-anak Papua punya potensi luar biasa. Jika diberi kesempatan dan motivasi, mereka mampu berkembang pesat,” ujarnya.

Baginya, kebahagiaan bukan sekadar materi, melainkan kepuasan melihat mahasiswa tumbuh dan berterima kasih atas bimbingannya.

Culture Shock dan Adaptasi

Mengajar di Jurusan DIV Agribisnis Perkebunan, Arga sempat mengalami culture shock.

Mulai dari pengalaman ditipu saat pertama tiba di Sorong, hingga harus menyesuaikan cara komunikasi dengan intonasi lebih tegas.

“Kadang penugasan harus dijelaskan berulang dengan bahasa lugas agar mahasiswa benar-benar paham. Tapi kalau semangat mereka bangkit, hasilnya luar biasa,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya mendampingi mahasiswa Papua agar tidak kehilangan motivasi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved