Papua Pegunungan
8 Korwil IMPT Kota Studi di Manokwari Serukan Perdamaian atas Konflik Horizontal Wamena
Pernyataan sikap disampaikan dalam jumpa pers di Asrama Mahasiswa Jayawijaya, Manokwari, Papua Barat, Senin (18/5/2026).
Penulis: Matius Pilamo Siep | Editor: Hans Arnold Kapisa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/8-korwil-di-mkw.jpg)
Ringkasan Berita:
- Delapan Korwil IMPT kota studi Manokwari menyatakan sikap moral atas konflik horizontal di Wamena, menegaskan bahwa insiden antar dua kelompok warga telah berkembang menjadi krisis kemanusiaan yang mengancam persatuan masyarakat Papua Pegunungan.
- Konflik dianggap merusak adat istiadat, budaya, ajaran gereja, serta nilai persaudaraan, sehingga mahasiswa menekankan pentingnya penyelesaian damai melalui musyawarah adat, rekonsiliasi budaya, dan doa bersama.
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Delapan Koordinator Wilayah (Korwil) Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT) kota studi Manokwari serukan perdamaian atas pertikaian dua kelompok warga di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Pernyataan sikap disampaikan dalam jumpa pers di Asrama Mahasiswa Jayawijaya, Manokwari, Papua Barat, Senin (18/5/2026).
Adapun Delapan korwil yang menyataka sikap, yakni Kabupaten Jayawijaya, Lanny Jaya, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Yalimo, Mamberamo Tengah, Nduga, dan Tolikara.
Perwakilan korwil, Yustinus Murib mengatakan konflik yang terjadi sejak 6 Mei 2026 hingga kini terus berkepanjangan dan melibatkan masyarakat dari suku Lanny, Yahukimo serta beberapa sub suku lainnya di wilayah Kota Wamena.
Menurutnya, konflik tersebut tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan adat semata, melainkan telah berkembang menjadi krisis kemanusiaan yang mengancam persatuan masyarakat Papua Pegunungan.
“Perang suku yang terjadi tidak lagi dipandang sebagai persoalan adat semata, tetapi telah berkembang menjadi krisis kemanusiaan yang mengorbankan nyawa, menghancurkan harta benda, menciptakan ketakutan dan trauma sosial, serta menghambat aktivitas pendidikan, ekonomi, pemerintahan, dan kehidupan masyarakat secara menyeluruh,” ujar Yustinus.
Ia menegaskan, mahasiswa IMPT kota studi Manokwari prihatin terhadap situasi yang terjadi di Wamena.
Baca juga: Pimpin Korwil Jayawijaya di Manokwari, Moses Meage Fokus Perjuangkan Aspirasi Mahasiswa
Menurutnya, konflik tersebut telah merusak nilai-nilai persaudaraan, adat istiadat, budaya, serta ajaran gereja yang selama ini menjadi dasar kehidupan masyarakat Papua Pegunungan.
“Konflik ini telah merusak nilai-nilai persaudaraan, kekeluargaan, adat istiadat, budaya, serta ajaran gereja yang sejak dahulu menjadi dasar hidup masyarakat Papua Pegunungan. Perang yang terus dipelihara hanya akan meninggalkan penderitaan berkepanjangan bagi generasi muda Papua dan memperburuk citra masyarakat adat di tanah sendiri,” jelasnya.
Yustinus menambahkan, sebagai generasi intelektual, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan perdamaian dan mendorong penyelesaian bermartabat.
Mahasiswa menilai pendekatan kekerasan bukanlah solusi, sebab aksi balas dendam dan mobilisasi perang hanya akan memperluas korban dan memperdalam luka sosial di tengah masyarakat yang sejatinya masih memiliki hubungan kekerabatan.
Baca juga: Korwil Jayawijaya Kota Studi Manokwari Gelar Rapat Umum Anggota Pertama
Sementara itu, Ketua IMPT, Nando Kayame meminta seluruh korwil dari 16 kabupaten yang tergabung dalam organisasi tersebut untuk bersama-sama memberikan masukan demi terciptanya perdamaian di Papua Pegunungan.
Ia juga mengingatkan mahasiswa Papua Pegunungan yang sedang menempuh pendidikan di Manokwari agar tidak terpecah belah akibat konflik yang terjadi di Jayawijaya.
“Kita adalah satu. Mari kita saling memberikan saran dan masukan untuk terciptanya perdamaian,” ujarnya.