Ki Hadjar Dewantara, Pahlawan Nasional yang Jadi Bapak Pendidikan Bangsa
Perkembangan pendidikan di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari perjuangan Ki Hadjar Dewantara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Ki-Hadjar-Dewantara.jpg)
Namun, Indische Partij ditolak oleh Belanda dan menggantinya dengan membentuk Komite Bumiputera pada 1913.
Komite tersebut bertujuan untuk melancarkan krituik terhadap pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Perancis dengan menarik pajak dari rakyat kecil.
Baca juga: Sosok 4 Pahlawan Nasional Perempuan, dari Cut Nyak Dien hingga RA Kartini
Ki Hadjar Dewantara mengkritik tindakan perayaan tersebut melalui tulisan yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk satu juga).
Akibat tulisan tersebut, Ki Hadjar Dewantara ditangkap Pemerintah Hindia Belanda dan dibuang ke Pulau Bangka.
Namun, Ki Hadjar Dewantara memilih untuk dibuang ke Belanda dan diizinkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Selama menjalani masa pembuangan di Belanda, Ki Hadjar Dewantara memanfaatkannya dengan banyak belajar.
Dirinya mempelajari masalah pendidikan dan pengajaran. Bahkan, prestasinya ditunjukkan dengan memperoleh Europeesche AKter.
Pada 1918, Ki Hadjar Dewantara kembali ke Indonesia setelah menjalani hukuman selama masa pembuangan.
Taman Siswa
Sekembalinya ke tanah air, Ki Hadjar Dewantara bertekad untuk membebaskan rakyat Indonesia dari kebodohan untuk mewujudkan Indonesia merdeka.
Dirinya mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa (National Onderwijs Institur Taman Siswa) pada 3 Juli 1922.
Pendidikan ini bertujuan menanamkan rasa kebangsaan mencintai tanah air untuk berjuang memperoleh kemerdekaan.
Baca juga: Frans Kaisiepo, Pahlawan Nasional yang Berjuang Satukan Papua ke Indonesia Pasca-Proklamasi
Ki Hadjar Dewantara juga aktif menulis dengan tema pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Melalui tulisannya tersebut, dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, Ki Hadjar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan yang pertama.
Pada 1957, dirinya mendapat gelar Covtor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada. Pada 26 April 1959, Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia dan dimakamkan di kota kelahirannya, Yogyakarta.
Untuk mengenang jasa dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara, pemerintah memberikan julukan "Bapak Pendidikan" dan menetapkan tanggal kelahirannya pada 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional. (*)
Berita lainnya terkait Pahlawan Nasional
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Biografi Ki Hadjar Dewantara: Bapak Pendidikan Bangsa