Sultan Hasanuddin, Pahlawan Nasional yang Dijuluki Belanda sebagai Ayam Jantan dari Timur
Setelah Sultan Hasanuddin naik tahta, dirinya menggabungkan beberapa kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk bersama-sama melawan Belanda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Gambar-Sultan-Hasanuddin.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM - Sultan Hasanuddin adalah Raja Gowa ke-16.
Dalam buku Biografi Pahlwanan Kusuma Bangsa (2011) karya Ria Listiana, Sultan Hasanuddin lahir di Ujung Pandang (Makassar), Sulawesi Selatan, pada tahun 1631.
Ia memiliki nama asli I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe.
Sultan Hasanuddin adalah putra kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15.
Setelah memluk agama Islam, beliau mendapat gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana dan lebih dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin.
Di bawah kepemimpinannya Kerajaan Gowa terus berjaya.
Baca juga: Kapitan Pattimura, Pahlawan Nasional asal Maluku yang Dihukum Mati oleh Belanda
Sebagai produsen rempah-rempah, Gowa membuka kerja sama dengan banyak negara, termasuk Belanda.
Namun hal tersebut ternyata tidak disukai Belanda (VOC), karena Sultam Hasanuddin menolak permintaan VOC untuk memonopoli Makassar.
Hingga akhirnya terjadi peperangan antara Sultan Hasanuddin dengan VOC.
Perjuangan Sultan Hasanuddin
Setelah Sultan Hasanuddin naik tahta, dirinya menggabungkan beberapa kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk bersama-sama melawan Belanda.
Pada tahun 1660, Sultan Hasanuddin mulai memerangi penjajah Belanda.
Namun di sisi lain, kerajaan taklukan dari Kerajaan Gowa ternyata membantu Belanda, yaitu Kerajaan Bone.
Baca juga: Sultan Baabullah, Pahlawan Nasional yang Berjuang Usir Penjajah Protugis dari Maluku
Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Belanda berusaha menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil salah satunya Gowa.
Pertempuran terus berlangsung, bahkan Belanda menambah pasukan untuk mendesak Gowa agar menyerah.