Komnas Perempuan Pantau Kondisi Mama-mama Pengungsi di Maybrat
Komisi Nasional (Komnas) Anti Kekerasan terhadap Perempuan, melaksanakan peninjauan pasca penyerangan Posramil Kisor, di Kabupaten Manokwari.
Penulis: Safwan Ashari | Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Komnas-PA.jpg)
Laporan Wartawan TribunPapuaBarat.com, Safwan Ashari Raharusun
TRIBUNPAPUABARAT.COM, SORONG - Komisi Nasional (Komnas) Anti Kekerasan terhadap Perempuan, melaksanakan peninjauan pasca penyerangan Posramil Kisor, di Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Dalam peninjauan tersebut, Komnas langsung memantau kondisi korban pengungsi khususnya Mama-mama atau perempuan seusai penyerangan tersebut.
Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani mengatakan, pihaknya tetap memberikan perhatian pada situasi khusus seperti di pengungsian.
Baca juga: Pihak Perusahaan Bantah Pelaku Pembakaran di Maybrat adalah Eks Karyawan
"Dari yang kami ketahui dilapangkan, banyak sekali perempuan di tempat pengungsian pasca peristiwa Kisor Maybrat, mengalami kesulitan," ujar Andy, kepada sejumlah awak media, Kamis (9/12/2021).
Ia mengaku, dari hasil di lapangan, banyak perempuan yang menceritakan tentang sulitnya proses evakuasi saat kejadian di Kisor.
"Tentunya, mereka juga merasa ketakutan dan khawatir terhadap kehidupannya serta keluarganya," tuturnya.
Untuk pengungsi di Kabupaten Sorong, jelas Andy, rata-rata merasa sudah menjadi beban bagi anggota keluarganya.
Sebagai keluarga, mereka merasa dalam situasi ini harusnya saling membantu.
Namun, sebagai keluarga para perempuan ini malah merasa menjadi beban bagi keluarga yang ada.
Mereka berharap, bisa segera pulang ke rumah masing-masing, dan mendapatkan jaminan keamanan.
"Kami tentunya akan mencoba untuk menyampaikan aspirasi perempuan-perempuan ini kepada pihak yang relevan dalam proses penanganan," kata Andy.
Sehingga, para pengungsi ini bisa pulang ke rumah masing-masing, supaya bisa menata kehidupannya lebih baik.
Ia menuturkan, untuk Kota Sorong, para pengungsi Maybrat, diterima sudah sebagai keluarga.
Jadi, perempuan pengungsi di Kota Sorong, bisa menitipkan anak-anaknya ke sejumlah lembaga pendidikan.