Surga Memukau di Pulau Batanta Raja Ampat, Ada Puing Pesawat Tempur Perang Dunia hingga Anggrek Liar
Pulau Batanta Raja Ampat, yang merupakan sepotong surga memukau di Provinsi Papua Barat memiliki banyak objek menarik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Keindahan-pasir-timbul-Urun-Kampung-Yansawai-Pulau-Batanta.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM - Pulau Batanta Raja Ampat, yang merupakan sepotong surga memukau di Provinsi Papua Barat memiliki banyak objek menarik.
Mmulai hutan pohon mangrove yang telah berusia ratusan tahun, air terjun Warinka Bom, situs sejarah bawah laut berupa puing pesawat tempur era Perang Dunia Kedua hingga puluhan spesies anggrek liar.
Diketahui, Raja Ampat memiliki empat pulau besar seperti Misool, Waigeo, Salawati dan Batanta.
Setiap pulau memiliki keindahan yang berbeda.
Pulau Batanta sendiri berjarak sekitar 34 kilometer dari Sorong atau sekitar satu jam perjalanan laut menggunakan speedboat.
Dengan luas 60 kilometer persegi, pulau ini memiliki ekosistem alami mulai dari pantai, hutan hujan tropis dengan pohon-pohon besar tumbuh rapat menjulang tinggi.
Pantainya berpasir putih halus dan air lautnya biru jernih. Barisan terumbu karang di perairan dangkal sedalam 40 sentimeter akan langsung menyambut siapa saja yang berkunjung ke tempat ini.
Spot ini ada tempat terbaik untuk mereka yang menggemari olahraga menyelam. Tak hanya terumbu karang serta jutaan ikan hiasa aneka warna.
Wisatawan yang menyelam bisa melihat situs bersejarah peninggalan Perang Dunia II di kawasaan Pasifik yakni bangkai-bangkai pesawat tempur asing yang tenggelam di bawah laut Batanta.
Pada beberapa titik perairan yang menjorok satu kilometer dari bibir, dimanfaatkan warga sekitar untuk budi daya kerang mutiara.
Walaupun cukup luas, pulau itu hanya dihuni 300 penduduk dari suku Marandan Weser dan Yarweser yang bermukim di Wayman, Yenanas, dan Wailebet.
Hutan mangrove dan air terjun
Batanta juga memiliki ekosistem rawa mangrove seluas sekitar 3 hektare. Di antara ratusan tanamannya terdapat puluhan batang pohon sangat besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun.
Akar-akarnya berukuran sangat besar berdiameter 20-30 sentimeter dan keluar dari batang pohon, mencengkeram permukaan lahan lumpur basah.
Lengkungan akar pada titik teratas bahkan melewati postur tubuh manusia dewasa.