Banyak Bandara di Papua Rawan Diserang KKB, Ini Kata TNI AU soal Kendala Penjagaan

Keberadaan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menjadi ancaman keamanan bagi para pilot yang mengoperasikan pesawat di wilayah Papua.

Humas Polda Papua
Aktivitas penerbangan di Bandara Aminggaru, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, Senin (14/6/2021). Sebanyak 150 aparat gabungan TNI-Polisi bersiaga pascateror Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). 

TRIBUNPAPUABARAT.COM - Keberadaan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menjadi ancaman keamanan bagi para pilot yang mengoperasikan pesawat di wilayah Papua.

Selain ancaman KKB, sebagian besar landasan terbang di Papua masih berstatus perintis yang belum teraspal sehingga hanya sedikit pilot yang berani mendaratkan pesawat di lokasi tersebut.

Sedangkan Lanud Silas Papare mencatat, sejak Januari hingga Agustus 2022, ada tujuh kali aksi kontak senjata antara aparat keamanan dengan KKB di kawasan bandara.

Baca juga: Instruksi Moeldoko untuk TNI-Polri yang Tangani KKB di Papua: Jangan Terpancing, Kerja Sesuai SOP

Bandara Aminggaru di Kabupaten Puncak, lalu Bandara Oksibil, dan Bandara Kiwirok di Kabupaten Pegunungan Bintang, menjadi kawasan terbang paling berbahaya karena rawan aksi penembakan.

Hal ini yang kemudian menjadi perhatian Ikatan Pilot Indonesia (IPI) hingga akhirnya menggelar Coffe Morning dengan para stakeholder terkait, mulai dari TNI AU, Airnav hingga Badan Intelijen Negara (BIN), di Jayapura, Sabtu (10/9/2022).

IPI meminta aparat keamanan dan pemerintah memberi atensi terhadap hal tersebut agar keamanan para penerbang yang bertugas di wilayah pedalaman bisa terjamin.

"Ada 12 titik yang rawan, salah satunya Kenyam. Itu mungkin bisa jadi perhatian dari pihak otoritas," ucap Ketua IPI Rama Noya.

Penempatan aparat keamanan di bandara-bandara pedalaman dipandangnya sangat penting karena para pilot yang akan mendarat di landasan tertentu bisa memperoleh informasi mengenai situasi terkini di lokasi yang akan dituju.

"Paling tidak kalau ada lokasi yang dianggap merah (rawan) seharusnya diberitahukan kepada pilot atau operator, harus ada kepastian bahwa memang lapangan terbang tersebut ditutup kalau tidak aman," tuturnya.

Baca juga: Dulu Kabur Bawa Senpi dan Gabung KKB, Prada Yotam Diduga Terlibat Pembantaian 11 Warga di Nduga

Wagus Hidayat sebagai pemilik SAM Air yang kerap melayani rute penerbangan perintis di pegunungan Papua juga menyampaikan hal yang sama.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved