Gubernur Papua Lukas Enembe Izin Berobat ke Singapura, KPK Merespons Begini

Tim kuasa hukum Lukas Enembe pun sempat ke Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jakarta bersama dokter pribadi Enembe, Athonius Mote.

Editor: Tarsisius M
hendrik_rewapatara_Tribun_Papua
ILUSTRASI- Tim kuasa hukum Gubernur Papua Lukas Enembe, Stefanus Roy Rening, menyampaikan kondisi kesehatan kliennya sedang menurun. Ia meminta agar Lukas Enembe bisa memeriksa kesehatan di Singapura. 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, JAKARTA- Tim kuasa hukum Gubernur Papua Lukas Enembe, Stefanus Roy Rening, menyampaikan kondisi kesehatan kliennya sedang menurun.

Ia meminta agar Lukas Enembe bisa melakukan pemeriksaan kesehatan di Singapura.

Tim kuasa hukum Lukas Enembe pun sempat ke Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jakarta bersama dokter pribadi Enembe, Athonius Mote.

Mereka ingin meyakinkan KPK soal kondisi terakhir kesehatan gubernur Papua itu di Papua, Jumat (23/9/2022) sore.

Saat itu, hadir juga Juru Bicara Gubernur Papua, Muhammad Rifai Darus.

Kedatangan mereka ke kantor KPK untuk menginformasikan ketidakhadiran Lukas Enembe pada pemeriksaan yang dijadwalkan pada Senin (26/9/2022).

Sebagai respons, Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri mengatakan KPK akan mempertimbangkan permintaan kuasa hukum Lukas Enembe itu.

Baca juga: Bersahabat dengan Lukas Enembe, Tito Karnavian Enggan Ikut Campur Urusan Hukum Gubernur Papua Itu

"Keinginan tersangka untuk berobat ke Singapura, kami pertimbangkan. Tentu kami juga harus pastikan dengan memeriksa kesehatan tersangka lebih dahulu ketika sudah sampai di Jakarta," ujar Ali Fikri, Sabtu (24/9/2022).

Menurur Ali Fikri, KPK berharap Lukas Enembe memenuhi panggilan pada 26 September 2022 di Gedung Merah Putih KPK.

KPK juga menyatakan, ketidakhadiran seorang tersangka karena alasan kesehatan perlu dibuktikan dengan dokumen resmi dari tenaga medis.

Hal itu tidak bisa hanya dengan menghadirkan seorang dokter pribadi maupun juru bicara untuk menjelaskan kondisi kesehatan seorang tersangka.

Sebab, tim penyidik bakal terlebih dahulu menganalisis dokumen kesehatan yang resmi dikeluarkan oleh tenaga medis.

"Alasan ketidakhadiran tersangka karena kesehatan tentu juga harus disertai dokumen resmi dari tenaga medis supaya kami dapat analisis lebih lanjut," kata Ali Fikri.

Ali juga menegaskan bahwa KPK juga telah memiliki tenaga medis khusus untuk memeriksa saksi ataupun tersangka yang dipanggil KPK.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved