Lewat Tarian Bowe, Warga Keluhan Minimnya Pembangunan di Kampung Sire Maybrat
Tarian bowe dibawakan saat Penjabat Bupati Maybrat Bernhard Rondonuwu berkunjung ke Kampung Sire, Distrik Mare, Kabupaten Maybrat, Papua Barat.
Penulis: Petrus Bolly Lamak | Editor: Tarsisius Sutomonaio
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Penari-sedang-berjalan-sambil-mepertunjukkan-gerakan-tarian-bowe-di-Kampung-Sire.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MAYBRAT - Papua Barat kaya akan wisata bahari yang terkenal sampai ke kanca internasional.
Tak hanya itu, Papua Barat juga memiliki beranekaragam budaya serta adat istiadat yang unik.
Satu di antaranya tarian Bowe dari Kampung Sire, Distrik Mare, Kabupaten Maybrat, Papua Barat.
Tarian khas ini dibawakan saat Penjabat Bupati Maybrat Bernhard Rondonuwu berkunjung ke wilayah tersebut.
Seorang penari bernama Barbalina Semunya menyebut tarian ini memiliki makna ketulusan masyarakat kepada pemerintah.
Setiap gerakan yang dipertunjukkan mengkisahkan bahwa minimnya pembangunan di Kampung Sire.
Baca juga: Pj Bupati Maybrat Peluk Satu per Satu Pengungsi Korban Penyerangan Posramil Kisor
"Gerakan memegang lutut itu kami mau tunjukkan bahwa 'Pak Bupati, kami sudah capeh jalan kaki tolong bantu kami'," kata Barbalina Semunya kepada TribunPapuaBarat.com, Jumat (11/11/2022).
Selanjutnya, gerakan memegang noken merupakan gambaran betapa susahnya masyarakat berjeri payah untuk naik turun gunung jalan kaki sambil membawa barang di noken.
"Karena sampai sekarang ini akses jalan tidak maksimal sehingga kami menderita," ujar Barbalina Semunya.
Untuk itu, ucapnya, tarian bowe ini juga sebagai ajakan kepada Bupati Maybrat untuk membantu masyarakat.
Mereka berharap pemerintah Maybrat membuka akses jalan di Kampung Sire sehingga kendaraan bisa masuk.
Baca juga: Penjabat Bupati Maybrat Berikan Kuliah Umum Soal Kepemimpinan Milenial di UMS
"Kami mau sampaikan bahwa bapak dorang (mereka) tra (tidak) tau bagaimana kitorang (kita) jalan kaki di sini," kata dia.
"Lalu yang kitong (kami) pegang noken itu kami mau bilang bapak bantu kami, karena kami capeh naik gunung dan jalan kaki," ujar Barbalina Semunya.
Tarian Bowe ini dipentaskan oleh sepuluh orang. Semuanya perempuan.
Mereka terlihat mengenakan kain tenunan khas dari Maybrat.
Para penari juga mengunakan pernik-pernik seperti kalung, noken, dan makhota. (*)