6 Jam Antre BBM Solar, Sopir Truk di Kota Sorong Belum Lihat SPBU
“Saya antre dari jam 6 pagi dan ini sudah mau jam 12 tapi belum sampai di tengah ini. Bahkan, saya belum bisa lihat lokasi SPBU," kata Hasan.
Penulis: Petrus Bolly Lamak | Editor: Tarsisius Sutomonaio
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/Hasan-sopir-truk-sedang-antre-bahan-bakar-minyak-BBM-di-SPBU-HBM.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, SORONG – Sopir truk, Hasan, mengantre bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar sejak pukul 06.00 WIT di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (2/3/2023).
Hingga pukul 12.00 WIT, Hasan masih terjebak di antrean panjang menuju stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) HBM, Kota Sorong.
Berdasarkan peta, antrean kendaraan ke SPBU HBM sepanjang 1,5 kilometer, dari depan Bandara Deo Sorong.
“Saya antre dari jam 6 pagi dan ini sudah mau jam 12 tapi belum sampai di tengah ini. Bahkan, saya belum bisa lihat lokasi SPBU," kata Hasan.
Ia pun khawatir tak kebagian jatah solar.
"Kalau sampai jam 1 berarti solar subsidi sudah tutup SPBU sudah tidak layani lagi,” katanya.
Baca juga: Kisah Sopir Truk Sulit Dapat Solar, Rela Tidur di Mobil hingga Ban Dikempisin Oknum
Hasan mengaku, antrean BBM jenis solar di ibu kota provinsi Papua Barat Daya Ini sudah bukan hal baru lagi.
Hampir setiap hari antrean terus terjadi. Padahal, Hasan bersama ratusan sopir truk pernah unjuk rasa ke kantor DPDR Kota Sorong.
“Antrean ini bukan hal baru, ini sudah lama terjadi tapi memang hari ini panjang sekali antreannya,” ujar Hasan
Ia mengatakan, kondisi antrean panjang seperti ini berdampak pada pekerjaan sehari-hari.
Lelaki enam anak itu terpaksa libur kerja, karena sehari waktu dihabiskan untuk mengantre BBM.
Baca juga: Berikut Harga BBM di Papua Barat dan Daerah-daerah Lain di Indonesia per Rabu 18 Januari 2023
Dia baru bisa kembali bekerja keesokan harinya.
“Ini mobil (truk) sendiri. Karena antrean begini, hari ini saya terpaksa tidak mencari muatan karena fokus antre BBM,” kata Hasan yang sehari-hari memakai truknya sebagai angkutan barang.
Pria asal kota Makassar berharap pemerintah memperhatikan penyaluran BBM bersubsidi ini.
Solusi yang disarankan ke pemerintah dan Pertamina, ucapnya, adalah membangun SPBU tambahan.
“Pemerintah tolong perhatikan ini, kalua boleh saran bangun lagi SPBU biar tidak terjadi antrean begini. Ini menganggu aktivitas dan lalu lintas,” katanya. (*)