Warga di Papua Pasang Ogoh-ogoh Setinggi 4 Meter Sambut Hari Nyepi
Bentuk ogoh-ogoh tersebut berupa boneka raksasa yang diarak keliling desa pada saat menjelang malam sebelum Hari Raya Nyepi
Penulis: Petrus Bolly Lamak | Editor: Tarsisius Sutomonaio
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/manajemen-Vega-hotel-Sorong-Papua-Barat-Daya-memasang-ogoh-ogoh.jpg)
Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi.
Sejak sekitar tahun 1980-an, umat hindu mengusung ogoh-ogoh yang dijadikan satu dengan acara keliling desa.
Acara itu dirayakan dengan membawa obor atau yang disebut acara Ngerupuk.
Baca juga: Jelang Bulan Ramadhan, Pemkot Sorong Pantau Harga Sembako: 5 Sampai 6 Bulan Aman
Sebetulnya, ogoh-ogoh merupakan kreativitas dan spontanitas masyarakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan Upacara Ngerupuk.
Sebelum memulai pawai ogoh-ogoh, para peserta upacara biasanya minum minuman keras traditional yang disebut dengan arak khas Bali.
Kemudian, ogoh-ogoh di arak menuju tempat yang diberi nama sema, yakni tempat persemayaman umat Hindu sebelum dibakar dan pada saat pembakaran mayat.
Setelah itu, ogoh-ogoh yang sudah diarak mengelilingi desa tersebut dibakar.
Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai dan diarak diiringi dengan irama gamelan khas Bali yang diberi nama bleganjur patung.
Gamelan ini dibuat menggunakan bahan dasar bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana.