Berita Papua Barat
Dinkes Papua Barat: Prevalensi Kasus HIV Tinggi, 20.045 Kasus yang Mesti Dideteksi Dini
hanya ada 2.829 ODHIV yang sedang dalam pengobatan dengan mengonsumsi obat antiretroviral (ARV).
Penulis: Kresensia Kurniawati Mala Pasa | Editor: Libertus Manik Allo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/HIVAIDS.jpg)
TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua Barat melaporkan, prevalensi kasus HIV di Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya sebesar 2,3 persen dari populasi penduduk.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Papua Barat, Nurmawati mengatakan, artinya ada 20.045 kasus HIV yang mesti dideteksi dini.
Namun, dari periode 2013 hingga April 2023, baru ada 6.909 temuan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Baca juga: Aktivis Prediksi HIV/AIDS di Manokwari pada 2023 Semakin Parah, Mahasiswa dan Siswa Paling Rawan
Baca juga: Febelina Indou Sebut Banyak Anak Muda Manokwari Terinfeksi HIV AIDS
Dari temuan kasus HIV, itu Nurmawati mengungkapkan, hanya ada 2.829 ODHIV yang sedang dalam pengobatan dengan mengonsumsi obat antiretroviral (ARV).
“Untuk kasus (HIV) terbanyak, sesuai dengan jumlah penduduknya. Kota Sorong dengan 1.900-an kasus dan Manokwari 1.700 kasus ,” kata Nurmawati saat diwawancarai TribunPapuaBarat.com di Manokwari, Selasa (30/5/2023).
Ia mengaku, temuan kasus HIV oleh tenaga surveilans kesehatan, tersebut masih jauh dari target yang diharapkan.
Prevalensi HIV di Kota Sorong sebesar 5000 kasus dan Kabupaten Manokwari sebanyak 3600 kasus.
Nurmawati menyebut, semakin banyak orang yang menjalani deteksi dini HIV, maka pengobatan ARV bisa segera dilakukan bagi yang terkonfirmasi positif.
Sehingga, rantai penularannya bisa diputus dan target nasional mengakhiri epidemi HIV/AIDS pada 2030 bisa tercapai.
Adapun target tersebut ditandai dengan three zero, yaitu zero infeksi baru, zero kematian, dan zero stigma atau diskriminasi.
“Sering ditanya, kok kasus HIV meningkat terus. Yah karena memang prevalensinya tinggi, 2,3 persen dari populasi penduduk (Papua Barat),” ujar Nurmawati.
Ia mengatakan, tolok ukur keberhasilan para tenaga surveilans yakni semakin banyak orang yang melakukan deteksi dini HIV.
Sesuai komitmen 95-95-95, yaitu 95 persen orang dengan HIV (ODHIV) mengetahui status HIV-nya, 95 persen ODHIV diobati, dan 95 persen ODHIV yang diobati mengalami supresi virus.
Lantaran, salah satu infeksi menular seksual, itu tidak memiliki gejala dan butuh waktu sekira 10 tahun hingga terungkap mengidap AIDS.
Oleh sebab itu, ia mengajak masyarakat dari semua kelompok umur dan kalangan untuk mendatangi fasilitas layanan kesehatan (fasyenkes) yang menyediakan tes HIV.